June 26, 2008

Bulan pertama di Jerman....

Disinilah aku, mendarat di tanah Jerman bersama DAAD Stipendien reguler angkatan ‘08. Alhasil saya sudah mendarat di kota Marburg, dan memulai kursus bahasa di Speak + Write. Di Marburg, rombongan kami berjumlah 5 orang. Ada yang dari UI, IPB, dan Departemen ESDM. Alhasil kami ditempatkan di wohnung yang nyaman di Richtsbergstrasse 88. Saya menshare wohnung dengan Pak Akbar dan Pak Hawis, di Erdgeschoss 4. Sementara temen saya, Verra dan Lita, di lantai 11. Biarpun berbeda lantai, komunikasi kami juga tetap baik. Di Marburg ini, memang mau tidak mau kita dipaksa untuk berbahasa Jerman. Dengan bahasa Jerman yang masih seadanya, kita harus berkomunikasi. Situasinya berbeda dengan kota besar, seperti Frankfurt atau Hannover, dimana kemampuan berbahasa Inggris sudah umum. Namun pada dasarnya aku senang di sini, karena bisa punya banyak teman. Ada teman dari US, bekas soviet, Palestina, Uganda, dan Korea Selatan. Itu baru teman sekelas, yang dari lain kelas ada dari Bangladesh, Thailand, India, dll. Menyenangkan sekali. Namun memang kita harus mencari cara untuk menghalau kebosanan yang kadang-kadang menghantui kita. Salah satu terapinya adalah dengan menulis blog. Satu hal yang juga menyenangkan, saya juga bertemu DAAD stipendien dari Indonesia, yaitu Kartika. Dia ternyata mengambil program profesional (non reguler), yang diperuntukkan untuk industri dan swasta. Cukup banyak juga informasi dari dia yang kudapat, karena dia sudah dari bulan april tiba di marburg ini. Sering kali kita suka punya perasaan rindu dengan keluarga kita, atau tunangan di tanah air. Syukurlah bagiku, ada obat untuk rasa rindu itu. Keluarga di Belanda sudah mengundang aku untuk pertemuan di Bulan Agustus. Jadi nanti aku akan ke Amsterdam. Yah..hitung-hitung menyambung lagi tali silaturahmi yang sempat terputus, karena jarak Indonesia dan Belanda yang sangat jauh. Pasti akan seru pertemuan itu, apalagi saudaraku sudah mengontak via handy untuk pertemuan demikian. Bagaimanapun memang aku berharap bisa bertemu orang tuaku lagi dan mengurus pernikahanku dalam waktu dekat. Adapun hal terakhir ini masih harus dilihat lagi, apakah feasible atau tidak. Awal bulan Juli ini, aku akan ke Hannover untuk bertemu profesorku. Semoga mengenai riset dan wohnung menjadi jelas setelah kami bertemu.

                            

May 24, 2008

Sebuah refleksi: Sombongkah saya?

Lao Tzu berpendapat, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah jika ia meniru prinsip hidup dari...pohon bambu!. Pohon bambu itu akarnya kuat, dan mampu bertahan dari badai. Namun jika badai datang, dia akan bisa menunduk. Jika badai berlalu, dia akan berdiri tegak lagi. Saya adalah fans Lao Tzu dari sejak lama. Banyak filosofi dia yang mengajak manusia untukbersatu dengan alam dan dengan sesamanya.

Ada perbedaan antara kesombongan dengan mengkritisi ketidak adilan. Jika kita terseret kedalam situasi di tempat kerja, dimana rekan kita yang tidak pernah melakukan apa-apa dan tidak tahu apa-apa, namun dia mendapatkan apresiasi dari institusi tempat kerja kita. Sementara kita sendiri yang bekerja pontang-panting siang dan malam atas nama institusi, namun mereka tidak memberikan apresiasi sama sekali, bahkan kepegawaian kita pun juga masih belum beres, wajar sekali kan jika kita mengeluh? Namun apa pendapat anda, jika kita keluhkan keadaan ini, jawabannya dari atasan kita sangat singkat, 'Kamu jangan sombong dan menyangka kamu lebih baik dari mereka', lalu atasan kita membela habis-habisan orang yang kita kritik, bahkan bilang 'kamu jangan mengeluh saja!'.. Jika kejadiannya demikian, kita sudah menjadi korban politik kantor. Ini bukan masalah kesombongan, tapi masalah kezaliman atau ketidak adilan. Tidak ada gunanya apologi 'Saya tidak sombong dan tidak merasa lebih baik dari mereka', karena semua itu sudah skenario politik dari para petinggi....You are totally alineated from your office!

Politik kantor adalah suatu hal yang wajar dan terdapat dimana-mana. Entah kita bekerja di swasta, militer, pemerintahan, NGO, atau apapun, yang namanya politik kantor pasti eksis. Selalu ada klik-klik di kantor berdasarkan suku, agama, alamater, dll. Dalam pertarungan antar klik, selalu saja ada yang menjadi korban. Sering kali kita menolak mengakui politik kantor itu ada, padahal ia sangat riil. Jadi tentu saja politik kantor beda dengan kesombongan.

Saya sering kali menemui banyak orang yang lebih cerdas dari saya. Aku sendiri mengakui bahwa mereka berperan sangat penting dalam membantu perjalanan karir saya sebagai ilmuwan. Sukar dibayangkan, jika orang-orang itu tidak ada, jadi apa diri saya. Pertemuan dengan mereka menyebabkan saya selalu 'eling', bahwa selalu ada langit diatas kita. Namun saya sekali, orang-orang tersebut akhirnya selalu harus berpisah dengan saya. Perpisahan itu terjadi karena mereka mengadu nasib di luar negeri. Sedihnya, perpisahan itu terjadi karena negeri ini tidak mampu mengakomodasi idealisme mereka, alias mereka korban dari politik kantor juga. Hal yang sama juga akan saya lakukan dalam waktu dekat, yaitu hijrah ke luar negeri.

Disatu sisi saya bersyukur, bahwa saya akan melanjutkan studi di negeri dimana politik kantor hanya dilandaskan satu aspek, yaitu apresiasi bagi yang rajin, dan degradasi bagi yang malas. Di tempat saya melanjutkan studi nanti, tidak mungkin kita temui orang yang tidak bisa apa-apa malah mendapatkan apresiasi. Tidak peduli suku, agama, alamater, afiliasi politik, atau apapun, pokoknya yang berprestasi pasti mendapatkan apresiasi. Justru semakin tidak mungkin saya menjadi sombong, karena negeri tempat saya melanjutkan studi ini merasa bahwa mereka diatas segala-galanya di dunia. Tentu saja, saya harus bekerja keras supaya bisa memenuhi standar mereka.

Hal lain yang mesti saya syukuri, adalah di negeri ini, saya akan bertemu dengan teman-teman baru yang penuh idealisme, rajin, dan cerdas. Besar kemungkinan mereka ini jauh lebih cerdas dari saya, dan bukan tak mungkin mereka lebih muda dari saya. Saya sangat antusias untuk bisa bekerja sama dengan pemuda-pemuda yang penuh idealis, dan semoga saya bisa belajar banyak dari mereka.

Saya akan selalu memegang teguh prinsip sederhana....Jadilah seperti pohon bambu!. Dengan prinsip ini, kita bisa tetap rendah hati, namun tetap memiliki prinsip dan idealisme. Namun sedihnya lagi, jika nanti saya kembali ke Indonesia, saya justru mesti memanfaatkan politik kantor juga untuk mendapatkan posisi di sini. Jelas ini bukan berdasarkan prestasi saya, tapi berdasarkan klik. Susah juga......walaupun ini sekedar harapan, saya berharap jika saya kembali, institusi yang menerima saya semoga melihat prestasi saya, bukan dari mana klik saya. Buah simalakama, bagaimanapun saya harus tetap kembali ke Indonesia, karena saya berkewajiban membantu orang tua saya. Merekalah alasan paling kuat mengapa saya harus kembali ke negeri asal. Repotnya saya harus mengoptimasi apa yang saya pelajari di luar negeri, dengan kondisi di negeri asal. Perlu perjuangan.

Memang pernah ada beberapa orang yang mengingatkan saya, supaya jangan sombong. Saya sendiri juga agak heran, mengapa mereka ngomong demikian. Apa karena mereka melihat saya sangat terdidik, dan mereka banyak melihat 'plenty educated man become arrognant?', ndak tahu juga. Untungnya saya sendiri bukan tipe orang yang suka berceloteh sana-sini tentang prestasi saya. Walaupun saya ini sudah S2, dan InsyaAllah sebentar lagi S3, saya tidak pernah mencela-cela atau meremehkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah. Saya merasa merendahkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah adalah buang-buang waktu dan tenaga, yang sebaiknya dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih berguna. Tokh apa gunanya mengagung-agungkan titel kita? Tokoh besar seperti Nabi Muhammad SAWdan Sokrates saja tidak memiliki ijazah, dan sangat kebablasan kalo kita yang memiliki ijazah merasa lebih tinggi dari mereka. Sebuah ironi melihat bahwa banyak sarjana menjadi Doktor atau profesor karena mempelajari pemikiran Sokrates dan Nabi, padahal objek kajian mereka sendiri tidak memiliki ijazah...:-). Lagipula titel tidak bisa dibawa ke liang lahat. Sebagai muslim, saya percaya bahwa amal baik saya yang akan dihisab di hari akhir, bukan titel saya. It doesn't seem right to believe that title will make us something.

Kisah yang juga menjadi inspirasi saya adalah kisah Firaun dan Nabi Musa as. Seperti yang sudah kita semua ketahui. Firaun adalah seorang raja yang sangat sombong. Ucapannya,'Bukankah aku adalah Tuhanmu', menunjukkan betapa arogannya dia. Adapun akhirnya air bah menenggelamkan dia dan armadanya. Sementara Nabi Musa as, yang awalnya adalah pangeran Mesir, justru mau bergabung dengan Bani Israil yang merana. Alhasil Bani Israil bisa mencapai tanah terjanji. Kasus Firaun selalu menjadi peringatan bagi saya mengenai nasib orang-orang sombog, yang akhirnya mengalami kehancuran.

Jadi...sombongkah saya? It's up to you to judge me guys...hihihi..:-).

April 27, 2008

Gagalnya negara dalam menjamin penghidupan rakyatnya dan pengambil alihan peran negara oleh keluarga: Posisi Riset dan Pendidikan Indonesia ditengah dominasi peran keluarga

Setelah saya berdiskusi sekian lama dengan pihak DAAD, yang telah melakukan perbandingan antara  kehidupan sosio ekonomi di Jerman dan Indonesia, ternyata ada beberapa perbedaan fundamental yang perlu digaris bawahi diantara keduanya. Jelas kita tidak akan bicara tentang skala kemakmuran antara kedua negara, yang jelas sangat berbeda. Membandingkan ekonomi, riset, dan pendidikan Indonesia dan Jerman secara langsung jelas tidak pas. Kita akan membandingkan sisi perbedaan sosiologis antara kedua negara.

Hal pertama yang akan kita sorot, adalah peran keluarga dan negara. Di jerman, sampai sekitar 100 tahun yang lalu, keluarga masih memainkan peranan penting dalam menjamin kehidupan anggota-anggotanya. Keluarga adalah unit ekonomi yang bertugas menjadi organ otonom, yang memenuhi segala kebutuhan stake holdernya. Adapun, para pemikir eropa akhirnya menyadari, bahwa membebankan semua kebutuhan ekonomi pada keluarga akan menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan riset atau pendidikan yang mandiri. Jika pengembangan riset atau pendidikan ditumpukan pada keluarga, itu akan terlalu berat. Tidak mungkin ada riset atau pendidikan Oleh karena itu, mereka mengusulkan supaya peran negara diperkuat, sehingga negara menjadi organ yang berfungsi untuk memenuhi segala kebutuhan dari warga negaranya.

Di Eropa, negara mengatur segala hal mengenai sustainibilitas ekonomi warganya. Setiap warga negara diusahakan mendapatkan asuransi kesehatan dan jaminan sosial. Di Jerman, jaminan sosial itu berupa arbeitlosgeld, yaitu monthly allowance bagi para penganggur. Dengan dipenuhi segala kebutuhan dasarnya, maka penganggur tidak akan menjadi kriminal. Birokrasi dibuat efisien dan profesional , sehingga berperan untuk mengayomi warganya.

Berbeda sekali dengan Indonesia. Sampai detik ini, peran keluarga masih sangat dominan sebagai unit ekonomi, dan peran negara lemah sekali dalam menjamin penghidupan warganya. Tidak ada asuransi kesehatan yang baik bagi semua orang, dan tidak ada jaminan sosial yang benar. Birokrasi belum efisien. Begitu dominannya peran keluarga, bahkan sampai keluargapun bisa menentukan profesi dan jodoh dari setiap anggotanya.  Berbeda sekali dengan di Eropa, dimana profesi dan jodoh itu adalah urusan masing-masing individu.

Selama peran negara lemah dan peran keluarga kuat, maka dapat dibayangkan dunia riset dan pendidikan Indonesia akan suram. Jelas keluarga manapun tidak ingin anaknya menjadi guru/dosen/ilmuwan, karena imbalannya sangat tidak memadai. Jelas mereka ingin setiap anaknya masuk kedalam profesi-profesi yang secara materi lebih menjanjikan. Pilihan profesi bagi setiap lulusan sarjana sangat terbatas, karena yang menjadi faktor utama adalah 'carrot and stick' berupa materi. Liberalisme seperti ini sangat sukar bagi pengembangan riset dan pendidikan di Indonesia. Jalan keluarnya entah bagaimana, karena menaikkan gaji guru/dosen/ilmuwan ditengah fluktuasi harga minyak dunia sekarang ini jelas tidak realistis.

Alhasil memang siapapun yang eksis di dunia riset atau pendidkan, maka menyambi adalah keharusan. Berkolaborasi dengan keluarga, untuk mengembangkan entrepreneurship adalah salah satu opsi yang baik untuk memperkuat perekonomian keluarganya sendiri. Ditengah gagalnya peran negara dalam menjamin penghidupan warganya, maka entrepreneurship adalah satu-satunya pilihan bagi kita untuk eksis secara sosio-ekonomi. Demikian dulu curhat aku.

March 23, 2008

Pengendalian Emosi

Pada dasarnya pengendalian emosi selalu menjadi tantangan bagi kita semua dalam mengaktualisasikan diri kita. Sukarnya memang, kalau kepala ini lagi mumet dan berisi segala macam pikiran yang berterbangan, dapat saja dengan mudah kita menjadi emosi. Padahal pemicu emosi itu hanya masalah kecil, tapi karena dikepala banyak berterbagan pikiran-pikiran lain yang lebih mumet, jadinya masalah kecil bisa menjadi besar.
Solusinya memang kita mesti bisa melakukan 'mind mapping'. Pertama, kita harus bisa menempatkan prioritas, mana hal-hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang belakangan. Kedua, kita pun juga harus bisa membedakan mana masalah kecil dan mana masalah besar. Masalah besar yang diselesaikan duluan, dan masalah kecil bisa diselesaikan dengan lebih santai. Ketiga, kita mesti lebih rileks dan santai dalam menghadapi permasalahan. Sering kali masalah itu datang dari orang-orang yang dekat dari kita. Sering kali kita merasa bahkan orang yang paling dekat dengan kita, ternyata tidak mampu memahami kita dengan baik. Sering kali pemikiran kita dianggap sepi oleh orang-orang yang kita cintai, namun justru lebih dihargai oleh orang lain diluar lingkaran dalam kita. Situasi ini menyakitkan dan ironis, karena tentu kita mengharapkan agar orang2 dekat kita mampu memahami kita, namun ternyata sering kali tidaklah demikian. Namun aku selalu ingat, bahwa Nabi sering sekali tidak dikenal atau bahkan ditolak di kampung halamannya. Justru diluar kampung halamannya mereka lebih terkenal. Ada kalanya kesabaran sangat penting dalam hal ini.
Solusi paling jitu dalam pengendalian emosi adalah sholat, sembahyang, atau meditasi dengan benar. Sebetulnya proses2 yang saya sebut didepan itu adalah proses relaksasi dan reporgramming pikiran, agar pengendalian emosi dapat dilakukan. Hal inilah yang harus dilakukan dengan sangat baik. Jika berhasil dengan baik, maka niscaya kita akan menjadi orang yang sabar dan tabah. It's just my one bucks coffee after all...:-)

February 03, 2008

Talkshow Netsains.Com: Dosen dan Ilmuwan Cuap-cuap di Tengah Mall

Dosen dan ilmuwan beraksi di tengah pusat pertokoan? Tak tanggung-tanggung, mereka bertestimoni mengenai indahnya menulis sains popular di dunia maya. Itulah yang terjadi di ajang Talkshow "Internet sebagai Media Popularisasi Sains" yang digelar Netsains.Com pada sabtu, 2 Februari 2008, di tengah SENIT Expo. Bertempat di satge lower ground Senayan Trade Center (STC), acara dibuka oleh Idwan Suhardi, Deputi Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset dan Teknologi.

Oplah Tertinggi

"Internet adalah media dengan oplah tertinggi di dunia. Di Indonesia saja diklik oleh 18 juta orang setiap hari. Jadi mengalahkan Kompas dan media cetak lainnya," ungkap Romi Satria Wahono, pendiri Ilmukomputer.Com yang juga kontibutor Netsains.Com.

Lelaki yang juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengenyam pendidikan 10 tahun di Negeri Sakura ini bertutur tentag suka duka berbagi ilmu di Internet sejak 2003 silam. Romi mengaku menulis blog sudah menjadi kebutuhan tersendiri yang kadang bisa mengalahkan pekerjaan sekalipun. "Saya bisa menolak panggilan hanya karena memang sedang ingin menulis saja di rumah." Ujarnya.

Merry Magdalena, dalam kapasitasnya sebagai founder Netsains, maju sebagai moderator talkshow. Sebelum pembicara yang lain dipanggil maju. Merry memberikan presentasi singkat mengenai komunitas Netsains. Presentasi tersebut diharapkan bisa memberikan penjelasan kepada audiens mengenai Netsains. Presentasi disampaikan dengan jelas, lancar, dan informatif.

Tak Takut Dibajak

Tak kalah menarik aksi Budi Rahardjo. Dosen Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku menulis di Internet jauh lebih banyak manfaatnya kendati tidak ada honorarium sama sekali. Walau karya tulis ilmiahnya sempat dibajak menjadi skripsi orang lain, ia tidak pernah kapok untuk terus berbagi ilmu di Internet. "Orang akan tahu karya siapa itu sesungguhnya. Jadi tak perlu ada kekawatiran tulisan kita dicuri orang lain," ujar lelaki berkumis yang hobi nongkrong di kafe ini.

Terkenal dengan blognya http://rahard.wordpress.com, Budi yang akrab disapa "BR" ini berkisah bahwa memang sebaiknya sains dan teknologi dipopulerkan dengan cara yang menyenangkan dan menarik sejak usia dini. Internet sebagai salah satu media yang paling efektif bisa dijadikan sarana untuk itu selain buku atau acara televisi. Mengaku mendapat inspirasi dari gaya presentasinya Bill Gates dan Steven Jobs, beliau membawakan presentasi sebagai layaknya seorang entertainer ulung. Materi yang beliau bawakan adalah mengenai 'internet dan anak-anak'. Di situ Pak Budi menekankan pentingnya mempopularisasikan sains pada anak-anak, karena mereka adalah generasi penerus. Dalam presentasinya, sempat dijabarkan betapa suramnya dunia tanpa keberadaan engineer, dan dimana engineering menjadi pemberi pencerahan pada kemanusiaan.

Fiksi Ilmiah

Ilmuwan yang berkutat di laboratorium pun bukan berarti tak bisa juga berlaga di Internet. Ini dbuktikan dengan Arli Aditya Parikesit, ilmuwan dan dosen bioinformatikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) yang rajin menulis di Internet. Arli yang tertarik dengan bioteknologi dan filsafat ini banyak mengangkat tema sains yang dikaitkan dengan fiksi ilmiah. "Karya fiksi ilmiah seperti ciptaan Jules Verne yang dulu hanya imajinasi, kini pelan-pelan menjadi kenyataan berkat kemajuan sains dan teknologi," papar Arli. Walau menulis di Internet memangsangat menyengangkan, baik Arli, Budi maupun Romi tetap setia menulis di jurnal ilmiah.

Sementara Muhammad Fahmi Aulia mewakili blogger berbagi pengalaman ikwal indahnya menulis blog. "Diawali dengan narsis, catatan harian, kelamaan saya juga menulis artikel yang agak teknis. Akhirnya saya juga tertarik mengirimkannya ke Netsains," ungkap Fahmi yang alumni Teknik Fisika ITB ini.***

Dilink dari http://www.netsains.com

December 28, 2007

Manusia....baik atau jahat?

Sewaktu Sigmund Freud menemukan, bahwa libido seksual sangat mempengaruhi jati diri manusia, komunitas dokter di Austria langsung mengutuk pemikiran itu. Mereka menganggap pemikiran mengenai libido adalah terlalu aneh. Yang ditemukan Freud memang sesuatu yang dianggap tabu pada saat itu. Misalnya, mengenai 'oedipus complex'. Freud menemukan pada salah satu pasiennya suatu kasus insest. Kongkritnya ada anak laki-laki yang memiliki dorongan untuk mengawini ibunya sendiri. Kebalikannya, yaitu 'electra complex' juga demikian. Yaitu kejadian dimana ada anak perempuan yang ingin mengawini bapaknya sendiri. The point is....human being is a complicated creature :=).
Satu hal yang perlu kita sadari, bahwa dalam diri setiap insan terdapat bisikan jahat dan bisikan baik pada hati nurani masing-masing. Tinggal ingin mengikuti yang mana. Bagaimana dorongan-dorongan itu bisa kita kontrol, untuk menjadi manusia yang normal, itulah yang harus kita lakukan. Kelainan jiwa terjadi ketika bisikan jahat mendominasi hati kita. Disitulah muncul iri, dengki, sombong, egoisme, dan kebencian. Manusia menjadi normal ketika ia mampu menjadikan bisikan baik mendominasi hatinya. Disitulah seorang insan mengalami tarik menarik, antara 'iblis dan malaikat' didalam dirinya......

December 16, 2007

Kunjungan ke Boscha

Pada tanggal 15 Desember 2007, komunitas netsains mengadakan gathering lagi di Observatorium Boscha. Acara ini sebenarnya berbarengan dengan gawenya Ristek, dalam melaunching teleskop matahari di Boscha. Saya sendiri sangat happy, karena bisa melihat dengan mata kepala sendiri Boscha itu seperti apa. Selama ini cuma tahu Boscha seperti apa dari film Sherina. Ada beberapa rekan, yang sebelumnya hanya kukenal di dunia maya, akhirnya bisa copy darat juga. Mereka diantaranya adalah pengurus iBiotech, yaitu: Audrey, Doti, dan Kalman. Menristek sendiri mengusulkan supaya Observatorium Boscha dijadikan maskot netsains. Kamipun berbincang-bincang mengenai banyak hal, Pak KK dengan gaya humornya yang selalu segar, dan Merry dengan celetukan-celetukannya :=). ITB justru diwacanakan untuk dijadikan server netsains. Aku sih ok-ok saja. Ada banyak pengalaman menarik disana. Lengkapnya, klik saja di http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_345 .  Lucu...kalo mengenai maskot netsains, nanti aku usulkan ke forum supaya Kamar Jenazah RSCM dijadikan maskot tambahan *wakakakak*.

November 13, 2007

Pengembangan Komunitas Netsains

OK...pengembaraan saya selama bertahun-tahun untuk menggoogling dunia maya, dalam rangka mencari rekan-rekin yang seide dengan saya akhirnya menemukan hasil. Akhirnya saya bertemu dengan komunitas Netsains (http://www.netsains.com)  yang dikomandani oleh Merry Magdalena. Klik saja langsung ke hyperlink diatas, untuk mengetahui netsains lebih lanjut. Aku banyak sekali bertukar pikiran dengan para  netsainers yang 'super' itu, seperti dengan Merry dan Hoho. Yang aku ndak sangka-sangka, akhirnya aku bisa berkorespondensi secara langsung dengan Pak Kusmayanto Kadiman, Menristek kita periode 2004 - 2009 ini. Asyik juga bergabung dengan komunitas ini....Banyak dapat teman baru. Jika rekan-rekin ingin join juga...kunjungi saja web site netsains, sekalian kontribusi artikel. Perkembangan terakhir, kami sedang berusaha keras untuk melegalkan netsains menjadi yayasan. Semoga awal tahun 2008 sudah bisa kita deklarasi secara formal......

October 28, 2007

Pedagang dan Darwis Kristen

Karena berada dalam kesukaran, seorang pedagang yang sangat kaya dari Tabriz (Iran) pergi ke Konya (Turki) mencari orang yang teramat bijaksana. Setelah mencoba mendapat nasehat dari para pemuka agama, hakim, dan lain-lain, ia mendengar tentang Jalaludin Rumi; ia pun dibawa menghadap Sang Bijaksana itu.
Pedagang itu membawa lima puluh keping uang emas sebagai persembahan. Ketika dilihatnya Sang Maulana di ruang tamu, pedagan itu menjadi sangat terharu. Jalaludin Rumi pun berkata kepadanya,
"Lima puluh keping uang emasmu diterima. Tetapi kau telah kehilangan dua ratus, itulah alasan kedatanganmu kemari. Tuhan telah menghukummu, dan menunjukkan sesuatu kepadamu. Sekarang segalanya akan beres." Pedagang itu terheran-heran terhadap yang diketahui Sang Maulana. Rumi melanjutkan.
"Kau mendapat banyak kesulitan karena pada suatu hari nun jauh di negeri Barat sana, kau melihat seorang darwis Kristen terbaring di jalan. Dan kau meludahinya. Temui dia dan minta maaf padanya, dan sampaikan salam kami kepadanya."
Ketika pedagang itu berdiri ketakutan karena ternyata segala rahasianya telah diketahui, Sang Maulana itupun berkata, "Perlukah kami tunjukkan orang itu padamu?" Rumi menyentuh dinding ruangan itu, dan pedagang itupun menyaksikan gambar orang suci itu di sebuah pasar di Eropa. Iapun terhuyung-huyung pergi meninggalkan Sang Bijaksana, tercengang-cengang.
Segera saja ia mengadakan perjalanan menemui ulama Kristen itu, dan ditemuinya orang suci tersebut telungkup di tanah. Ketika didekatinya, darwis Kristen itupun berkata, "Guru kami Jalal telah menghubungi saya."
Pedagang itu melihat ke arah yang ditunjukkan darwis tersebut, dan menyaksikan-dalam gambar-Jalaludin sedang membaca kata-kata semacam ini, "Tak peduli kerikil atau permata, semua akan mendapat tempat di bukit-Nya, ada tempat bagi semuanya..." Pedagang itupun pulang kembali, menyampaikan salam darwis Kristen itu kepada Jalal, dan sejak itu tinggal dalam masyarakat darwis di Konya.Mevlanarumi









Gambar Jallaludin Rumi. (Sumber:http://img.photobucket.com/albums/v245/mevlanasufi/)

Dari Kisah-kisah Sufi Idries Shah.

 

October 23, 2007

Contemplation

If the image of our Beloved is in the heathen temple.

Then it is flagrant error to walk round the Ka'ba.

If in the Ka'ba His fragrance is not present.

Then it is but a synagogue.

And if in the synagogue we sense the fragrance of union with Him.

Then that synagogue is our Ka'ba.

What is to be done, Muslims? I, myself, do not know.

I am neither Christian nor Jew, neither Magian nor Muslim.

I am not from east or west, not from land or sea.

I am not from the quarries of nature not from the spheres of heaven.

I am not of earth, not of water, not of air, not of fire.

I am not from India, not from China, not from Bulgar, not from Saqsin.

I am not from the kingdom of the two Iraqs. I am not from the land of Khurasan.

My place is placeless, my trace is traceless.

No body no soul, I am from the soul of souls.

 

From: Matsnawi Jallaludin Rumi