Main | August 2007 »

July 15, 2007

Kebijaksanaan menuju integrasi ilmu-ilmu

Hari-hari ini, di Universitas Indonesia (UI) sedang dilakukan pemilihan rektor. Saya, yang seorang peneliti muda, menunggu dengan antusias akan adanya perubahan di kampus kuning ini. Setelah selama 20 tahun didominasi Fakultas Kedokteran di salemba, akhirnya ketiga calon rektor yang terpilih berasal dari ‘non-salemba’. Mereka berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Dari ketiga calon, hanya satu orang yang dokter, itupun sudah tidak praktek selama 22 tahun. Jadi, setelah 20 tahun dipimpin oleh para dokter, dapat dipastikan bahwa seorang non-dokter akan menjadi rektor. Apakah ini angin perubahan? UI selama 20 tahun dipimpin Fakultas Kedokteran tentu telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan. Nampak jelas sekali. Misalnya UI mencapai peringkat 250 dunia dari 520 universitas menurut THES-QS. Dibangunnya Institute of Human Virology and Cancer Biology (IHVCB), aplikasi SIAK-NG dan mulai demokratisnya proses pemilihan rektor menunjukkan hal itu. Namun secara objektif, ada hal-hal dimana UI tertinggal dengan universitas lain.

 

Berdasarkan laporan Ditjen-Dikti tahun 2006, UI telah menyerahkan 36 laporan penelitian ke Dikti. Sementara ITB menyerahkan 53 laporan. Ok, kita tertinggal sedikit dari ITB. Mungkin ini hanya menunjukkan ada laporan yang telat diserahkan, atau yang memang tidak diserahkan. Namun selanjutnya ini data yang lebih mengejutkan, UGM dan IPB masing-masing telah menyerahkan 360 dan 320 laporan !. Perbedaannya bisa begitu jomplang! Adaapa dengan UI? Quo Vadis UI? Selama ini, sebenarnya UI melakukan penelitian atau tidak sih? Atau jangan-jangan hanya banyak-banyak buka program studi- program studi, yang menghasilkan lulusan2, yang laporan penelitannya dibiarkan berdebu di perpustakaan fakultas karena tidak pernah dipublikasi? Hal ini yang belum bisa diselesaikan dalam 20 tahun kepemimpinan FK. Sementara itu, secara internasional, parameter untuk menentukan kualitas universitas bukanlah peringkat2 seperti diatas, namun……banyaknya jumlah nobel laureate yang dihasilkan universitas tersebut. Ini jelas2 rumit. Jangankan UI, secara nasional saja tidak ada satu universitaspun di Indonesia yang mampu mencetak nobel laureate. Lalu kedepannya UI menghadapi tantangan yang sangat berat, terutama dari segi keuangan. Negara secara perlahan-lahan mencabut subsidi, jadi otomatis UI harus mencari uang sendiri. Ini sebabnya UI perlu memikirkan pendirian inkubator bisnis atau sejenisnya, untuk mencetak entrepreneur2 yang dapat bekerja sama untuk menguntungkan cash flow UI. Dan tentu saja, cash flow tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan, yaitu dengan diaudit oleh akuntan publik yang independen. Tantangan terberat memang bagaimana UI menjadi ‘world class research university’, dan ini perlu waktu untuk mencapainya.

 

Namun sekali-lagi, apakah dengan naiknya rektor ‘non-salemba’, akan terjadi perubahan? Di satu sisi saya jawab ya, karena tentu saja seorang dokter dan seorang non-dokter mempunyai persepektif yang berbeda dalam menyelesaikan masalah. Tentu saja dalam gaya kepemimpinan akan ada perubahan drastis. Selama 20 tahun UI dipimpin oleh dokter, telah banyak perubahan luar biasa yang dialami UI. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada FK-UI, yang telah membawa UI kepada keadaannya yang baik saat ini. Namun kedepannya, akan lebih banyak perubahan lagi yang kita lihat, karena akan ada nuansa kepemimpinan yang berbeda. UI akan memiliki seorang pemimpin yang membawa ide-ide segar, dan penuh dengan dinamika baru. UI akan memiliki seorang pemimpin yang berasal dari akar rumput, cerdas namun membumi. Dan UI akan memiliki seorang pemimpin yang visioner, mampu melihat masa depan, dan bekerja keras untuk memotivasi bawahannya dan dirinya untuk menggapai masa depan penuh harapan. Namun di sisi lain,sangat disayangkan, harus saya katakan bahwa tidak akan ada perubahan. Sama sekali tidak.

 

Apa maksudnya ini? Paradoks sekali. Kok satu sisi tidak ada perubahan? Bagaimana ini? Secara singkat, selama hampir 60 tahun UI berdiri, yang terjadi adalah timbulnya kerajaan-kerajaan kecil. Mereka adalah fakultas-fakultas. Kalau dalam sistim monarki absolut, bisa dibayangkan jika rektor itu kaisar (raja diraja), seorang dekan adalah seorang raja (tentu perbandingan yang agak jauh, karena UI jauh lebih demokratis dari sistim seperti itu). Setiap fakultas memiliki agenda sendiri-sendiri, yang sangat sukar untuk disatukan. Perbandingan lain seperti otonomi daerah di Indonesia Provinsi-provinsi sekarang kan adalah kerajaan-kerajaan kecil, yang sukar sekali diatur oleh pusat. UI keadaannya seperti itu lah. Dalam keadaan ini, perjuangan untuk menjadi rektor tak lebih adalah agenda politik dari masing masing fakultas. UI memiliki 12 fakultas, yang dikelompokkan jadi tiga, yaitu kelompok kesehatan, Sosial-Humaniora, dan Sains-Teknologi. Setiap kelompok ini memliki agenda politik, yang tertinggi tentu saja adalah kursi rektor. Di satu sisi kelihatannya ini sangat wajar. Wajar dong kalau ada ‘like and dislike’ dalam suatu organisasi. Wajar dong kalau ada politik organisasi, dan wajar juga dong kalau setiap kelompok punya agenda politik. Apabila kita baca literatur ekonomi politik, pengelompokan dan pembentukan klik seperti itu, dalam rangka memperoleh kekuasaan dan modal, merupakan keharusan yang tak dapat dihindarkan. Semua organisasi, di pemerintahan, swasta, ataupun LSM mengalami hal yang sama. Namun ada satu hal yang tidak wajar. Hal itu adalah, semua pengelompokan itu berbasis pada egoisme sektoral.

 

Seorang bijak pernah berkata, bahwa ‘air sungai akan mengalir kepada laut yang sama’. Semangat ini yang jelas tidak ada di UI. Egoisme sektoral, terasa sangat kental sekali di UI. Saya agak malas memberi contoh, karena rasa-rasanya para sidang pembaca bisa lihat sendiri UI itu bagaimana. Bila demikian caranya, akan sangat sukar UI bisa berkembang. Saya sebenarnya berharap, pengelompokan atau pembentukan klik itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keilmuan yang kita sandang. Misalnya pembentukan klik atas dasar angkatan, atau atas dasar pertemanan, bahkan atas dasar ideologi pun, bila kita mengacu literatur ilmu politik, itu sah-sah saja (walaupun saya kurang sreg dan kurang suka kalau ideologi masuk ke dunia akademis, karena di eropa barat misalnya, hal demikian tidak terjadi). Tapi ini tidak demikian. Pertanyaan selanjutnya, apakah yang bisa dilakukan rektor baru untuk mendobrak egoisme sektoral ini? Saya bisa jawab agak sulit beliau bisa berbuat banyak. Hal ini sudah mendarah daging di UI. Namun mungkin saya bisa memberikan beberapa perspektif untuk keluar dari jalan buntu ini, yang akan saya jabarkan dibawah. Mudah2an bisa menjadi masukan bagi UI, maupun pihak lain yang berkepentingan. Saya menulis ini semata untuk kebaikan UI dan bangsa ini.

 

Di masa lalu, para filusuf Yunani Klasik menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah berupa satu kesatuan yang koheren. Di mata seorang Plato dan Aristoteles misalanya, mereka tidak membayangkan bahwa ilmu itu terpecah-pecah menjadi Kesehatan, Sosial-Humaniora, atau Sains-Teknologi (lebih2 jaman Yunani Klasis Sains-Tek belum berkembang). Kebijakan Yunani Klasik adalah, ilmu2 tersebut adalah bagian dari ‘broader picture of wisdom’. ‘Broader picture of wisdom’ tersebut adalah filsafat. Filsafat adalah ‘matter scientarum’ atau induk dari semua ilmu. Jadi bagi seorang filosof, kontradiksi antara ilmu sosial dan alam, misalnya seperti yang terjadi di UI, itu adalah ‘contradictio in terminis’. ‘contradictio’ karena adalah suatu absuditas melihat salah satu bagian dari filsafat, mengkontradiksi bagian yang lain. Bila ada kontradiksi seperti itu, maka filsafat akan tidak ada. Dan ini tidak mungkin. Jadi pandangan dunia (weltanschaung) seorang Plato dan Aristoteles itu begitu koheren, holistik, dan menyeluruh. Kebijakan ini diteruskan oleh para filosof muslim seperti Al-Farabi, Ibn-Sina, dan Ibn-Rusyd. Bagi para filosof muslim, semua ilmu, apabila dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia, akan membawa kita pada ridha Ilahi juga. Seorang Ibn-Rusyd misalnya, beliau ada dokter, filosof, dan ulama sekaligus. Sementara, Al-Farabi adalah seorang dokter dan musisi sekaligus (Seperti Tompi kali yee?). Namun akhirnya di eropa, setelah literatur filsafat kaum muslimin dibaca oleh para intelektual mereka, terjadi perkembagan lain.

 

Di abad ke 17, Rene Descartes akhirnya memulai ‘salvo tembakan pertama’ untuk melepaskan ilmu-ilmu positif dari filsafat. Descartes berpendapat bahwa alam semesta ini bekerja sebagai suatu mesin. Dia memberi analogi…bahwa alam semesta ini bekerja seperti mesin jam dinding!. Dalam konteks itu, untuk mengetahui bagaimana mesin tersebut bekerja, tentu diperlukan instrumen yang tangguh. Instrumen itu adalah matematika. Matematika di tangan Descartes, menjadi ‘tools’ yang handal, untuk membaca dan membongkar rahasia alam semesta. Oleh sebab itu, Descartes menciptakan kajian geometri analitis, yang berguna untuk mengkuantifikasi segala aspek dari alam semesta ini. Kordinat Cartesius, yang sangat kita kenal di pelajaran matematika, adalah memang buah tangan Descartes. Dengan demikian, ilmu matematika melepaskan diri dari filsafat. ‘Salvo tembakan kedua’, ketika Isaac Newton merumuskan hukum gravitasinya. Newton berpendapat bahwa hukum gravitasi adalah hukum universal yang mengatur pergerakan di alam semesta ini. Dengan demikian ilmu fisika melepaskan diri dari filsafat. ‘Salvo tembakan ketiga’, terjadi ketika August Comte mendeklarasikan bahwa ia menemukan ilmu positif baru, yaitu sosiologi. Comte mengklaim bahwa ilmu barunya dia ini dapat menemukan hukum2 yang mengatur perkembangan dan dinamika masyarakat. Dengan demikian sosiologi melepaskan diri dari filsafat. ‘pelepasan-pelepasan’ ini terjadi sampai abad ke 21 ini. Namun ada beberapa perkembangan positif. Di Perancis, filsafat diajarkan sebagai mata pelajaran wajib untuk siswa kelas tiga smu, sebelum ia mendapatkan baccalaureatnya (ijazah smu/lycee). Jadi di eropa, filsafat selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan integrasi keilmuan. Kita juga mengenal seorang Alfred North Whitehead, seorang pakar matematika, yang pada masa kuliah bachelor nya sudah menguasai filsafatnya Immanuel Kant. Dan juga Karl Jaspers, seorang dokter yang juga seorang filosof. Jadi rasanya di eropa sana, integrasi keilmuan dalam batas tertentu masih terjadi, terima kasih kepada filsafat. Disana, Ilmu memiliki arah dan makna, karena pengarahan dari filsafat.

 Sekarang, Quo Vadis UI dan Indonesia? Di Indonesia, bila kita bicara filsafat, siap-siap saja kita dicurigai atau dianggap aneh (bahkan murtad oleh kalangan tertentu!). Bahkan ada saja kalangan yang berpendapat bahwa filsafat itu bertentangan dengan agama. Mengapa demikian? Bukankan Al-Farabi berpendapat, bahwa filsafat itu adalah kebenaran akal, sementara agama adalah kebenaran wahyu, sehingga seharusnya kebenaran akal dan kebenaran wahyu itu saling melengkapi? Apa artinya agama jika dijalankan tanpa akal? Para ‘founding father’ kita adalah para pencinta filsafat. Bung Karno dan Bung Hatta membaca Karl Marx, Hegel, ataupun Plato-Aristoteles. Sudah kita lihat sendiri bahwa ‘founding father’ kita adalah orang-orang yang paling bijak pada zamannya, karena mereka membaca filsafat. So, why not we? Contoh Bung Karno dan Bung Hatta, mereka tetap yakin dengan keIslaman mereka, walaupun mereka membaca filsafat sampai dalam sekali. Justru malah semakin yakin dengan agama mereka. Saya tidak menganjurkan supaya anak kelas tiga sma diajarkan filsafat. Ini tidak bijak sama sekali. Saya hanya menganjurkan, supaya filsafat lebih disosialisasi kepada kalangan teknokrat, supaya egoisme sektoral mereka menjadi tidak ada. Kepada kalangan yang lebih tua mungkin sulit, tapi terhadap yang muda-muda, masih ada harapan. Sebenarnya, akan lebih ideal kalau mahasiswa memiliki Mata kuliah umum filsafat, tapi ini terlalu jauh lah. Mungkin ada prioritas lain.

 

Akhirnya kita berada di bagian penutup dari tulisan ini. Kadang-kadang saya suka geli kalau melihat beberapa orang itu berbicara membandingkan ilmunya dengan ilmu lain, untuk kemudian menyimpulkan bahwa ilmunya lebih unggul daripada ilmu lain. Saya sangat sering bertemu orang-orang seperti itu. Saya sering kali geli bercampur heran dengan orang seperti itu. Kenapa sih beliau2 ini tidak melihat dalam perspektif yang lebih luas? Kenapa sih tidak bisa dilihat bahwa semua ilmu berasal dari induk yang sama, yaitu filsafat? Well, mungkin dia ini sudah tak bisa berubah, dan kita harus menerima pandangannya dia apa adanya. Kita beritahu begini-begitu pun tak ada gunanya. Saya memang secara formal adalah kimiawan yang bergerak di bidang bioteknologi, tapi saya sendiri tidak ambil pusing kalau ada orang-orang yang membandingkan ilmu alam begini dengan ilmu sosial begitu. Karena saya sendiri adalah orang yang sangat suka dengan filsafat. Sangat-sangat suka. Perbandingan-perbandingan tersebut tak lebih menunjukkan bahwa orang tersebut tidak pernah baca literatur filsafat sedikitpun, jadi buat apa saya pikirkan. Bila orang itu suka filsafat, dia akan melihat dalam perspektif yang lebih holistik. Bila dilakukan perbandingan pun, akan lebih diarahkan dalam perspektif, bahwa semua ilmu berasal dari induk yang sama, dan akan mengalir kepada laut yang sama juga. Bila perbandingannya justru ‘diadu ayam’ seperti kasus egoisme sektoral, ya ini berarti dia ndak ngerti filsafat. Bila demikian sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. Di Indonesia, saya harus menerima keadaan apa adanya, ya seperti itu lah. Saya tidak berpretensi mau mengubah orang lain, karena orang yang harus dirubah itu adalah diri saya sendiri. Saya harus merubah diri saya sendiri untuk menerima keadaan apa adanya. Terima kasih atas perhatiannya.