« July 2007 | Main | October 2007 »

August 31, 2007

Teori versus Praktek...Mana yang lebih penting?

Rata-rata jika kebanyakan orang ditanyakan hal ini, pasti akan menjawab praktek. Jawaban ini sudah jelas arahnya, karena hanya seorang praktisi yang bisa menghasilkan...uang dan kekuasaan (menurut mereka). Selalu praktek..praktek...dan praktek. Dalam situasi dimana paham pragmatisme menguasai kesadaran kita, pemikiran seperti itu tentu saja meraja lela. Namun selalu menjadi pertanyaan di benak saya, jika praktek itu lebih penting, kapan orang itu berpikir? Berpikir dalam hal ini untuk mempertimbangkan langkah apa yang akan dia ambil, dan konsekuensinya kedepan? Bukankah berpikir adalah aktivitas dasar manusia, untuk bertahan hidup dan memecahkan masalahnya? Jawaban 'praktek itu lebih penting' mengesankan bahwa keputusan yang kita ambil sama sekali tidak menggunakan pertimbangan yang matang. Malah mungkin tanpa pertimbangan sama sekali. Prinsip demikian sama dengan prinsipnya Josef Stalin, pemimpin Uni Soviet, yang berpikir bahwa 'bertindak dahulu, berpikir kemudian'. Akibatnya, 30 juta rakyat Soviet tewas karena pemerintahan tangan besinya. Prinsip 'berpikir kemudian' dari Stalin, yang mendorong dia untuk mendeportasi 1 juta orang etnis minoritas Soviet ke Siberia, karena mencurigai mereka 'berkolaborasi dengan Nazi Jerman'. Semua tindakan Stalin itu tanpa ada bukti sama sekali. Sama juga dengan paranoia Hitler dengan 'masalah Yahudi', itu berdasarkan prinsip 'bertindak dahulu, berpikir kemudian'. Juga paranoia para diktator atau tiran lain di muka bumi ini, seperti itu juga. Atau malah prinsip mereka 'bertindak dahulu, dan tak usah berpikir' ? Maaf saja, kalau sudah begini, bahkan primata saja masih lebih baik dari kita. Saya yakin semua ahli biologi hewan akan setuju, bahwa primata dalam tingkat tertentu masih bisa berpikir. Bukankah manusia adalah primata yang paling beradab? Bila demikian, mengapa pola pikirnya kadang bisa lebih payah daripada primata yang paling primitif sekalipun? Semua tidak lain karena paradigma 'praktekisme' tersebut.

Bila kita masuk dunia bisnis atau politik dewasa ini, prinsip 'praktekisme' seperti ini sudah umum. Seorang pejabat tinggi negara mengklaim, bahwa ia memilih kroninya untuk menduduki posisi yang tinggi, karena ia lebih tahu masalah 'praktek ekonomi' daripada orang lain. Ternyata si kroni itu terlibat masalah bencana pencemaran lingkungan, yang sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya (Bisa tebak sendiri kan maksudnya siapa?). Selalu diklaim bahwa teori itu tidak penting, yang paling penting praktek. Namun apakah pemikiran demikian ini bijak? Bila praktek itu paling penting, sekarang seharusnya Indonesia itu makmur dong, karena dipimpin oleh pejabat yang 'paling tahu praktek'. Namun ternyata masih seperti ini. Bahkan para pejabat yang 'paling tahu praktek' pun tidak bisa berbuat apa-apa sewaktu wasit karate Indonesia disiksa oleh polisi Malaysia. Pejabat yang 'paling tahu praktek'pun belum berhasil menggerakkan sektor riil perekonomian kita yang macet. Ada apa ini? Quo Vadis kabinet Indonesia Bersatu?

Sama juga bila orang menganggap teori itu paling penting, ya itu berarti bahwa sang individu ingin memasuki alam 'para dewata'. Dia ini sibuk dengan khayalannya sendiri, yang tidak pernah ditransformasikan menjadi kenyataan. Pola pikir seperti ini, banyak mencengkram para akademisi dan ilmuwan, yang mengaku 'idealis', sehingga mereka memberi pesan jelas bahwa uang dan kekuasaan itu tidak ada artinya. Ini sama anehnya dengan paham 'praktekisme'. Inilah paham 'teoriisme'. Paham ini juga menyajikan kemunafikan yang sama dengan praktekisme. Kalo mereka mau jujur, untuk hidup di Indonesia ini, perlu duit ngaak? Untuk menggunakan toilet di Blok M Plaza saja kita harus bayar. Bila dia sudah menikah, perlu ngaak istrinya diberi nafkah dan anaknya diberikan pendidikan yang terbaik? Perlu ngaak kita memiliki penghidupan yang layak sebagai akademisi? Jelas perlu, dan itu perlu uang. Biaya hidup di Jakarta itu tinggi dan perlu kerja yang smart untuk memenuhinya. Kalau praktekisme itu bisa dianalogikan dengan primata, maka kalau 'teoriisme' bisa analogikan dengan binatang dewa seperti naga dan phoenix. Seakan-akan keren naga itu, karena pada horoskop Tiongkok shio naga itu adalah shio yang terbaik. Namun kenyataannya, dalam ilmu biologi, naga itu tidak ada. Mereka memasuki 'alam para dewa', yang sebenarnya tidak ada   Berarti...hanya lamunan saja dong, aksinya tidak ada. Para penganut 'teoriisme' selama ini hanya mengejar bayang-bayang mereka sendiri, yang sebenarnya bukan apa-apa. Jangan lupa, bahwa Mahatma Gandhi adalah seorang idealis yang memiliki nama baik, yang juga bapak bangsa India. Namun tragisnya, sepeninggal sang ayah, anaknya Gandhi terlunta-lunta dalam kemiskinan. Stalin dan Gandhi, ternyata bukan sosok yang sempurnya seperti yang kita bayangkan. Memang wajar demikian, karena tidak ada satu orangpun yang sempurna. Namun tetaplah kita hormati mereka. Namun mari kita menjahit secara lebih objektif, dimana sesungguhnya posisi teori dan praktek yang cocok.Mungkin untuk menutup polemik ini saya ambil beberapa cerita dari orang-orang terkenal, yang sangat menginspirasi saya.

Kisah pertama adalah tentang Henry Ford.  Ford sekarang ini dikenal sebagai salah satu 'bapak otomotif dunia'. Namun siapa yang sangka, bahwa pada tahun-tahun sebelum dia terkenal, dia itu hidupnya sangat sederhana. Namun, walaupun belum kaya, dia memiliki idealisme yang sangat menggebu-gebu. Walaupun tidak pernah kuliah, itu tidak menghalanginya untuk berkreasi. Dalam imajinasi Ford, dia percaya bahwa pada akhirnya Amerika akan memiliki mobil pribadi yang kuat, handal, dan terjangkau. Untuk merealisasikan hal ini, dia jadikan garasi belakang rumahnya sebagai laboratorium eksperimen otomotifnya. Setiap kali dia keluar rumah, selalu saja para tetangga mecibir dia, dengan menganggap bahwa dia sudah gila. Namun Ford tidak peduli. Pada akhirnya, mobilnya sudah selesai, dan diuji coba keliling perumahan. Lucunya, tetangganya yang dulu mencibirnya, malah bertepuk tangan dan mengucapkan selamat ke dia.

Kisah kedua adalah mengenai Andy Groove. Groove dikenal sebagai salah satu anggota triumvat pendiri Intel Corporation. Sekarang dia sudah pensiun dari posisinya sebagai Chairman and CEO Intel . Sekarang ini, 4 dari 5 PC di dunia, diotaki oleh prosesor Intel. Namun siapa sangka, Groove memiliki masa lalu yang penuh perjuangan. Dia sebenarnya lahir di Hongaria dengan nama aseli Andrej Graf, dan beretnis Yahudi. Sewaktu Nazi Jerman menyerang Hongaria, dia dan keluarganya melarikan diri ke Amerika. Dalam keadaan masih buta sama sekali dengan bahasa Inggris, dia berusaha keras untuk menguasai bahasa itu, dan akhirnya bisa. Karena kerja kerasnya, ia memiliki pendidikan yang tinggi, sampai mendapatkan PhD dari Departemen Teknik Kimia Stanford University. Walaupun menjadi busisnessman, ia sesekali masih mengajar di beberapa universitas. Karena keuletan dan pendidikannya yang bagus, ia berhasil menjadi tim engineering Intel. Prosesor Intel Pentium yang dikenal dan sukses besar sampai sekarang ini, merupakan produk yang diluncurkan dibawa kepemimpinan Andy.

Mungkin dua kisah yang saya jabarkan mengenai Ford dan Groove memberi inspirasi kepada kita semua, bahwa pada dasarnya teori dan praktek itu adalah satu kesatuan. Seperti Siang dan Malam, Panas dan Dingin; semua itu adalah satu kesatuan. Hanya dengan menggabungkan teori dan praktek, seseorang bisa memiliki kekayaan lahirian dan batiniah. Kita pisahkan dan anggap yang satu lebih penting, maka kita tidak akan medapatkan apa-apa. Kesimpulan: kesuksesan hanya berada di tangan setiap insan yang mampu memadukan teori dan praktek secara elegan.