« August 2007 | Main | November 2007 »

October 28, 2007

Pedagang dan Darwis Kristen

Karena berada dalam kesukaran, seorang pedagang yang sangat kaya dari Tabriz (Iran) pergi ke Konya (Turki) mencari orang yang teramat bijaksana. Setelah mencoba mendapat nasehat dari para pemuka agama, hakim, dan lain-lain, ia mendengar tentang Jalaludin Rumi; ia pun dibawa menghadap Sang Bijaksana itu.
Pedagang itu membawa lima puluh keping uang emas sebagai persembahan. Ketika dilihatnya Sang Maulana di ruang tamu, pedagan itu menjadi sangat terharu. Jalaludin Rumi pun berkata kepadanya,
"Lima puluh keping uang emasmu diterima. Tetapi kau telah kehilangan dua ratus, itulah alasan kedatanganmu kemari. Tuhan telah menghukummu, dan menunjukkan sesuatu kepadamu. Sekarang segalanya akan beres." Pedagang itu terheran-heran terhadap yang diketahui Sang Maulana. Rumi melanjutkan.
"Kau mendapat banyak kesulitan karena pada suatu hari nun jauh di negeri Barat sana, kau melihat seorang darwis Kristen terbaring di jalan. Dan kau meludahinya. Temui dia dan minta maaf padanya, dan sampaikan salam kami kepadanya."
Ketika pedagang itu berdiri ketakutan karena ternyata segala rahasianya telah diketahui, Sang Maulana itupun berkata, "Perlukah kami tunjukkan orang itu padamu?" Rumi menyentuh dinding ruangan itu, dan pedagang itupun menyaksikan gambar orang suci itu di sebuah pasar di Eropa. Iapun terhuyung-huyung pergi meninggalkan Sang Bijaksana, tercengang-cengang.
Segera saja ia mengadakan perjalanan menemui ulama Kristen itu, dan ditemuinya orang suci tersebut telungkup di tanah. Ketika didekatinya, darwis Kristen itupun berkata, "Guru kami Jalal telah menghubungi saya."
Pedagang itu melihat ke arah yang ditunjukkan darwis tersebut, dan menyaksikan-dalam gambar-Jalaludin sedang membaca kata-kata semacam ini, "Tak peduli kerikil atau permata, semua akan mendapat tempat di bukit-Nya, ada tempat bagi semuanya..." Pedagang itupun pulang kembali, menyampaikan salam darwis Kristen itu kepada Jalal, dan sejak itu tinggal dalam masyarakat darwis di Konya.Mevlanarumi









Gambar Jallaludin Rumi. (Sumber:http://img.photobucket.com/albums/v245/mevlanasufi/)

Dari Kisah-kisah Sufi Idries Shah.

 
                            

October 23, 2007

Contemplation

If the image of our Beloved is in the heathen temple.

Then it is flagrant error to walk round the Ka'ba.

If in the Ka'ba His fragrance is not present.

Then it is but a synagogue.

And if in the synagogue we sense the fragrance of union with Him.

Then that synagogue is our Ka'ba.

What is to be done, Muslims? I, myself, do not know.

I am neither Christian nor Jew, neither Magian nor Muslim.

I am not from east or west, not from land or sea.

I am not from the quarries of nature not from the spheres of heaven.

I am not of earth, not of water, not of air, not of fire.

I am not from India, not from China, not from Bulgar, not from Saqsin.

I am not from the kingdom of the two Iraqs. I am not from the land of Khurasan.

My place is placeless, my trace is traceless.

No body no soul, I am from the soul of souls.

 

From: Matsnawi Jallaludin Rumi

October 16, 2007

Stem Cell di Indonesia?

        “ Ikuti sabda Tuhan atau pemikiran manusia”, demikian tandas seorang pendeta sambil mengangkat Alkitab dalam suatu diskusi ilmiah. Diskusi ilmiah ini diadakan di Inggris pada medio tahun 1850an untuk membahas teori Darwin. Sampai detik ini, karena lobi kaum neo-konservatif, teori Darwin dilarang untuk diajarkan di sebagian sekolah dan universitas di Amerika Serikat. Sebelum  itu, pada tahun 1633, Galileo Galilei harus menghadap pengadilan inkuisisi yang diadakan oleh pihak Gereja untuk mempertanggung jawabkan dukungannya terhadap heliosentrismenya Kopernikus. Galilei, senanda dengan Kopernikus, berpendapat bahwa matahari adalah pusat alam semesta. Sementara itu pihak Gereja, dengan doktrin geosentrisnya, berpendapat bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Akhirnya Galileo diputuskan bersalah, dan dikenakan tahanan rumah. Sementara itu, di awal abad ke 20, di Uni Soviet, ahli biologi dan genetika TD Lysenko, berhasil meyakinkan pemerintahan Stalin, bahwa teori genetika Mendel itu adalah anti komunis dan anti marxis dan Lysenko menawarkan penggantinya yaitu teorinya sendiri yang pro komunis dan memungkinkan untuk mendapatkan langkah maju di bidang pertanian. Di kemudian hari akan timbul pendapat umum diantara para ilmuwan yang menyatakan bahwa pendapat Lysenko adalah tidak benar. Namun Stalin mendukung Lysenko dan pengikutnya, sehingga ilmuwan-ilmuwan lain yang tidak sepaham dengannya akan disingkirkan. Ahli genetika terkemuka, N.I Vavilov, yang berani mengkritik teori Lysenko, meninggal di kamp kerja paksa di Siberia sebagai “martir” bagi ilmu pengetahuan yang otonom.
        Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan membawa umat manusia pada titik ekstrim. Jepang mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan manusia sebagai percobaannya. Sementara itu Uni Soviet mengembangkan senjata biologisnya dengan mengakali perjanjian internasional mengenai bioterorisme dan senjata biologis. Di tahun 1945, proyek Manhattan pimpinan Robert Oppenheimer, pakar fisika Nuklir, telah berhasil dengan eksperimen bom atomnya. Beberapa bulan setelah keberhasilan tersebut, bom atom diledakkan di Hirosima dan Nagasaki di Jepang, dengan korban tewas di kedua kota tersebut sekitar 300.000 penduduk.
Kami tidak mau menyulut polemik lebih jauh mengenai apakah sel tunas ini sebaiknya diperbolehkan atau tidak untuk dikembangkan. Masing masing pendapat memiliki dasar yang kuat untuk pembenarannya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus ini dengan pertimbangan seperti yang akan kami tulis dibawah.
        Masyarakat modern telah percaya bahwa hanya suatu sistem yang demokratis saja yang mampu menjamin aspirasi dari warga negaranya dapat tersalurkan. Demokrasi memiliki prasarat antara lain suatu masyarakat yang terbuka, penegakan hukum, transparansi, pertanggung jawaban ke publik, dan tentu saja partisipasi publik. Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan di suatu negara, setiap proses pengguliran regulasi, pembentukan institusi, dan pekerjaan institusinya, tetap harus melalui proses demokratis. Ilmu pengetahuan bukanlah bidang yang tertutup seperti bidang militer dan intelejen, sehingga proses demokrasi yang normal justru akan menguntungkan komunitas ilmu pengetahuan.
Dalam konteks sel tunas ini, setiap kelompok, baik yang pro atau yang kontra, harus tetap taat terhadap hukum nasional yang telah terinstitusikan dalam proses demokrasi. Taat dengan hukum nasional berarti tidak menggunakan cara-cara teror, intimidasi, dan anarki dalam rangka memperjuangkan pendapatnya. Pendapat dari setiap kelompok bisa diuji dalam debat, seminar, sarasehan, dan wacana dengan publik sebagai jurinya. Setiap upaya kriminal untuk menggolkan pendapat satu kelompok harus ditolak atas nama hukum. Apa yang terjadi di Amerika Serikat patut disayangkan, sebab kelompok neo-konservatif berencana memberangus kelompok liberal yang mendukung setiap upaya pengembangan sel tunas ke penjara. Suatu hal yang aneh dalam konteks Amerika, sebab selama ini Amerika selalu mengklaim dirinya sebagai pionir demokratisasi dunia. Sementara apa yang terjadi di Korea Selatan patut dipuji, sebab kelompok konservatif berhasil menggolkan pemikirannya, dengan dilarangnya klon reproduksi, sementara kelompok liberal juga berhasil diperbolehkan dalam upayanya melakukan riset klon terapi. Jadi win-win solution berhasil dicapai di Korea Selatan.
Berkaca dari kasus Amerika Serikat dan Korea Selatan, bagaimanapun dalam konteks Indonesia ini kita harus bergegas menanggapi setiap perkembangan yang terjadi dalam konteks sel tunas. Beruntung kita sudah memiliki komisi bioetika yang membahas mengenai sel tunas. Diharapkan supaya kedepannya legislasi sel tunas bisa dirilis.
        Dalam konteks pengembangan sel tunas embrio manusia sendiri, jelas sekali masih memerlukan waktu bertahun-tahun sampai teknologi ini dapat diaplikasikan pada manusia. Bahkan sel tunas sendiri belum menjalani uji klinis pada manusia, yang memerlukan waktu panjang juga dalam mengevaluasi resiko dan keberhasilannya. Pengembangan sel tunas sendiri memerlukan SDM yang handal dan infrastruktur yang memadai.  Indonesia mungkin memiliki SDMnya, namun untuk infrastruktur itu adalah tanda tanya. Tim Riset sel tunas di Korea Selatan dalam setahun mendapat dana US$ 2 juta dari pemerintahnya. Sementara di Indonesia, satu tim penelitian mendapatkan dalam setahun Rp 100 juta hibah pun belum tentu. Penghargaan terhadap ilmu-ilmu dasar di Indonesia masih sangat rendah. Pemerintah masih memiliki prioritas lain untuk diperbaiki seperti sanitasi, transportasi massa, ekonomi makro, dll. Membayangkan sel tunas akan menjadi subyek penelitian di Indonesia seperti day dreaming saja.
        Namun bukannya tidak mungkin day dreaming itu menjadi kenyataan, bila para ilmuwan dapat meyakinkan publik dan pemerintah, bahwa penelitian sel tunas ada manfaatnya. Bila penelitian negara-negara maju pada akhirnya membuktikan bahwa ada manfaat terapetik dari penelitian sel tunas, Indonesia tidak mungkin menolak sama sekali penelitian sel tunas. Namun tetap harus ada mekanisme kontrol dan legislasi yang baik, dalam perspektif bioetika. Kita tentu tidak ingin sel tunas dimanfaatkan untuk kepentingan bioterorisme, seperti kasus Jepang dan Uni Soviet di masa lalu, dimana mereka menggunakan mikroorganisme untuk kepentingan terorisme. Setiap upaya penelitian harus diarahkan semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan saja. Namun jika penelitian sel tunas ini tidak menjanjikan apa-apa, tentu saja diskusi mengenai sel tunas dapat segera ditutup.

October 12, 2007

Google Search Engine

Google

October 11, 2007

Nothingness and simplicity

We live in complete nothingness.
Love is nothing.
Faith is nothing.
Direction is nothing.
Past, present, and future are nothing.
All we see, hear, feel, and touch are nothing as well.
Justice is a highway into the bliss of nothingness.
Nihilism is the direction of all movement.
We work, love, and hate for nothing.
The basis of our modern civilisation is only an illusion
An illusion of heaven, but in fact is a complete nihilsm.
Wealth, Power, and sex are considered everything.
But in fact, everything is a complete nothingness.
Nothingness is enlightment.
Nothingness is contemplation.
Nothingness is state of mind.
Some says that salvation is a necessity.
Nothingness is no salvation.
Beacuse salvation is only an illusion.
Illusion by a creative imagination of geniuses.
Terrorism is a cruel way to resist nihilsm of western civilisation.
But terrorism is nothingness and nihilsm as well.
Philosophy is nothing.
Teology is nothing.
Science is nothing.
So what is the point of livin'?
Happiness? Wealth? indoctrination or What?
The point is nothing.
Because livin' is nothing.
Live is only a temporary resting place.
A Place for rest a while.
So livin' is not worth thinking at all.
A wise sage once said: "We still have troble for thinking this live, why should we think for the death?"
Another sage once said: "Life is an illusion"
After that, it's none of our busisness.
Nature will take care of all our hustle
Harmony with the nature is the essence of all

Sains di persimpangan jalan

Sebenarnya ilmu pengetahuan sedang berada dalam persimpangan jalan. Secara kuantitatif, ia menjanjikan segudang hal. Mulai dari biologi molekuler dengan rekayasa genetikanya, kedokteran dengan terapi gennya, Fisika material dengan nanotechnologynya, Teknologi informasi dengan artificial intelligencenya. Paradigma positivisme sosiologis ala August Comte pada abad-19 menyatakan, bahwa dengan kemajuan sains, maka akan dicapai pula kebahagiaan umat manusia. Bahkan Sigmund Freud, bapak ilmu psikologi, lebih jauh lagi menyatakan bahwa bila perkembangan sains sudah sangat maju, maka agama sudah tidak diperlukan lagi. Namun, pertanyaannya, apakah dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, manusia juga semakin bijak dalam mejalankan hidupnya?

Pertanyaan terakhir ini memang sangat sukar dijawab, dan artikel ini tidak berpretensi untuk menjawabnya juga. Kami hanya mengajak untuk merenung dan berkontemplasi, bukan untuk menjawab pertanyaan. Namun perhatikan juga perkembangan sejarah umat manusia. Dalam ilmu kimia, perkembangan kajian sintesa kimia organik/organometalik mencapai puncaknya sewaktu pihak militer Jerman jama perang dunia I berhasil mensintesis senyawa Lewisite, yang digunakan sebagai senjata kimia untuk melawan pihak Inggris. Setelah itu bermunculan berbagai varian senjata kimia, seperti Sarin dan Mustard. Rezim Baath Saddam Hussein menggunakan gas mustard untuk membantai suku kurdi di utara Irak pada tahun 80-an. Saya pernah melihat video montasenya, dan sangat mengerikan keadaan mayat suku kurdi korban senjata kimia yang saya lihat. Mereka seperti hangus terbakar dan kulitnya melepuh semua, dalam beberapa kasus sampai dagingnya kelihatan. Sementara Ilmu Biologi mencapai puncaknya dengan pengembangan senjata biologis oleh Jepang pada tahun 30 an sampai 1945. Jepang menggunakan bom yang disisipkan patogen antrax (bomblet), untuk membantai penduduk sipil di Mancuria, China utara. Sementara tahanan perang China dan sekutu, disiksa dengan disuntikkan dengan patogen berbahaya langsung secara in vivo. Untuk ilmu fisika, tidak usah ditanya lagi, mencapai puncaknya dengan pengembangan senjata nuklir, yang meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki

.

Mungkin belum cukup dengan semua itu, sebenarnya di benak banyak orang, pasti mengira bahwa profesi ilmuwan, dokter, atau insinyur adalah profesi yang terhormat dan pasti orang-orang yang berintegritas saja yang bisa demikian. Saudara-saudara, saya tegaskan disini, bahwa TIDAK ADA KORELASI SAMA SEKALI antara PROFESI seseorang dengan INTEGRITAS MORALnya. Saya langsung berikan contoh, Shiro Ishi, Ketua Unit 731 yang mengembangkan senjata biologis Jepang adalah seorang dokter. Sementara, Josef Mengele, yang menjadikan para tawanan Yahudi sebagai kelinci percobaannya, juga adalah seorang dokter. Sementara, yang mengembangkan senjata nuklir, Robert Oppenheimer, adalah seorang Fisikawan. Juga orang-orang yang menemukan gas Lewisite, Sarin, Mustard, dan lainnya juga adalah Kimiawan. Orang-orang diatas dengan sadar penuh, rela menggunakan ilmunya untuk kepentingan politik. Bisa jadi karena mereka tidak punya pilihan lain, karena negara mereka memaksa mereka untuk menjadi demikian. Hanya saja pilihan yang mereka ambil menyebabkan banyak nyawa melayang. Tidak ada jaminan bahwa bila seorang dokter mengucapkan sumpah Hipokrates atau sumpah profesi lain, yang mewajibkan dokter untuk menolong nyawa pasiennya, maka dokter itu tidak akan terlibat pada program pengembangan senjata pemusnah masal. Sumpah itu hanya di mulut saja, sementara hati nurani bisa bicara lain. Seorang Shiro Ishi dan Joseph Mengele di satu sisi, sementara seorang Albert Schweitzer di sisi lain, mereka semua sama-sama mengucapkan sumpah hipokrates dan sumpah profesinya. Namun pihak yang satu menjadi pengembang senjata pemusnah masal/algojo tahanan politik, sementara yang satu menjadi aktivis kemanusiaan yang mendapat nobel perdamaian. Politik itu buta (Bukan hanya cinta saja yang buta). Dia tidak peduli yang telibat itu dokter atau bukan, insinyur atau bukan, ilmuwan atau bukan. Yang penting begitu seorang teknokrat memasuki dunia ini, maka akan ada konsekuensi yang sangat serius dari sisi kemanusiaan dan moralitas. Bisa jadi contoh diatas memberikan contoh secara langsung, bahwa bukan profesinya yang membuat seorang Albert Schweitzer itu mulia, namun karena idealismenya yang tinggi untuk menolong sesamanya itu yang membuat seorang Pak Albert itu mulia. Kemuliaan datang tanpa memandang apa profesi orang. Ia datang dimana keadilan ditegakkan, Kasus demikian juga terjadi pada Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Martin Luther King Jr yang notabene bukan dokter, ilmuwan, atau insinyur. Sukar untuk menilai orang dari profesinya. Di satu sisi, banyak orang yang ingin jadi dokter, ilmuwan, atau insinyur, namun di titik itu tidak ada yang bercita-cita untuk menjadi MANAJERnya dokter, ilmuwan, atau insyinyur. Bicara manajemen, pasti berbicara mengenai good corporate governance (pasti orang ekonomi sudah tahu semua). Sudah jamak sekali terdengar dokter yang melakukan malpraktek, ilmuwan yang mikirin dirinya sendiri dan mengisolasi diri, atau insinyur yang bikin gedung/rumah/proyek lalu ambrol berantakan. Mungkin mereka-mereka ini mesti belajar manajemen sama Pak Renald Khasali barangkali, supaya menjadi lebih profesional dalam menjalani profesinya. Disini menarik, saya mengajak bila ada orang ekonomi yang membaca artikel ini, untuk langsung memberi masukan pada artikel ngolor ngidul ini, biar semakin jelas arahnya.

Agak sukar juga melihat dilema ini. Sains tidak ubahnya seperti fenomena “tanaman makan pagar’ atau pisau bermata dua. Saya tak ada habis-habisnya merenung, semakin tinggi perkembangan sains, maka mesin perang pemusnah yang diciptakan manusia akan semakin canggih secara kualitas dan kuantitas. Ini konsekuensi logis dari paradigma positivisme. Sering beberapa pakar menggulirkan, bahwa sekarang positivisme sudah mati. Sekarang katanya kita bicara post-positivisme. Faktanya di lapangan, masih banyak yang percaya bahwa semakin canggih sains, manusia semakin bahagia. Benar-benar sulit.

Walaupun saya seorang kimiawan, saya dengan jujur menyatakan bahwa saya tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan akan membuat saya bahagia begitu saja langsung seperti datang dari langit. Sains itu hanya suatu instrumen belaka.

Ada hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar sains dan teknologi an sich, seperti cinta kasih, kesetia kawanan, keadilan sosial, dan kejujuran. Semua itu menjadi suatu jaring-jaring sosial yang menyangga peradaban kita. Masalah percaya tidak percaya. Tapi sebenarnya pertanyaan diatas belum terjawab….

Anthropobiology

Baru-baru ini, Lembaga Eijkmann merilis penemuan yang menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, bukan dari Yunan seperti yang dipercaya oleh banyak orang.  Saya pikir semua ilmuwan yang jujur percaya, bahwa antara intelejensia dengan ras sebenarnya tidak ada hubungan yang pasti. Bahwa sesungguhnya intelejensia ditentukan oleh faktor lingkungan.  Namun benarkah bahwa lingkungan yang paling menentukan siapa diri kita? Bukankah istilah “lingkungan mempengaruhi segalanya” adalah istilah yang dipopulerkan Karl Marx, untuk mendorong revolusi kaum buruhnya? Bahwa menurut dia, pada akhirnya kesadaran manusia secara total ditentukan oleh relasi ekonomi politik antara kaum buruh dan kapitalis, tanpa memberi ruang terhadap kehendak bebas? Dengan demikian dimana kehendak bebas manusia? Apakah kehendak bebas hanya spekulasi ngelantur para eksistensialis seperti Sartre, Bergson, dan Iqbal, atau secara faktual ia “ada”?

Memang sekarang ini para ilmuwan cenderung ogah mengasosiasikan ras/gen terhadap manifestasi budaya manusia, itu dengan alasan kuat.  Trauma perang dunia II, yang dipicu oleh Nazi Jermannya Hitler, yang bertujuan menghabisi kaum Yahudi, Gipsi, Homoseksual, Slavia, dan cacat di seluruh eropa membuat banyak orang cenderung menganggap mengasosiasikan gen/ras dengan budaya sebagai sikap “rasialisme”. Namun perhatikan ini, mengapa sih orang kulit hitam Amerika adalah kelompok yang paling produktif dalam hal kesenian, dibanding yang kulit putih?  Rasanya sudah jamak kita kenal musik R&B, Hip-hop, dan tentu saja Jazz yang notabene ciptaan kaum Black American. Apakah itu murni faktor lingkungan? Atau pada kelompok Black Amerikan memiliki gen tertentu, yang memungkinkan mereka sukses dalam berkesenian, dimana interaksi optimal antara gen dan lingkungan memungkinkan mereka mengaktualisasikan dirinya sebagai seniman? Dan kemudian, mengapa justru kelompok bangsa yang paling berperan dalam perkembangan kebudayaan barat adalah orang Yahudi, dan bukan yang Kristen? Bukankah selama ini Bangsa Yahudi adalah kelompok yang paling konsisten dalam menjaga kemurnian rasnya, dengan melakukan pernikahan di kalangan mereka sendiri?

Agak lucu kecenderungan sebagian orang yang  menganggap teorinya Darwin sebagai ideologi, yang kemudian kita adu dengan Islam.  Pertama-tama, teori Darwin sebenarnya bukan ideologi, ia hanyalah salah satu teori dalam sains. Juga harus diletakkan bahwa kebenaran agama dan kebenaran ilmiah tidak sepantasnya dipertentangkan.  Kebenaran agama adalah yang tertinggi, karena ia adalah wahyu, namun kebenaran ilmiah juga harus kita pengang, karena itu cara kita untuk mengaktualisasi diri kita dalam era globalisasi yang penuh tantangan ini. Namun kaum Nazi Jerman dan Uni Soviet membajaknya, sehingga ia menjadi ideologi. Teorinya Darwin sebenarnya sama saja dengan teori-teori lain dalam sains, hanya saja karena tidak ada cara untuk membuktikan secara pasti kalau evolusi itu terjadi (kecuali kalau kita punya mesin waktu), maka ia belum bisa disebut sebagai “hukum”. Sama saja dengan teori atom, karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat tanpa bantuan instrumen super canggih, maka ia tinggal teori saja, dan tidak bisa dibilang hukum (Seperti hukum Newton).

Menarik juga antropobiologi itu.  Sebenarnya bila orang mempelajari Biologi secara mendalam, akan menemukan bahwa sesungguhnya secara biologis manusia itu sama.  Penampakan rasial yang berbeda, seperti warna kulit, bentuk mata, warna rambut, dll, itu hanyalah merupakan penampakan yang bersifat permukaan.  Bila semua itu kita “singkirkan”, kita akan melihat bahwa manusia memiliki fungsi organ yang sama, dan gen yang sebenarnya sama juga.  Namun interaksi antara gen dan lingkungan itulah yang menentukan menjadi apa si manusia itu.  Interaksi antara gen dengan lingkungan yang menciptakan diversitas umat manusia, semenatara gennya sendiri itu sama saja. Dalam perspektif ini, sebenarnya sikap rasialisme tidak dapat diperbolehkan, karena sikap itu menghianati konsepsi bahwa kodrat manusia secara biologis adalah sama.


Amino acids are the building blocks of proteins

 Amino acids are the building blocks of proteins. An α-amino acid consists of a central carbon atom, called the α carbon, linked to an amino group, a carboxylic acid group, a hydrogen atom, and a distinctive R group. The R group is often referred to as the side chain. With four different groups connected to the tetrahedral α-carbon atom, α-amino acids are chiral; the two mirror-image forms are called the L isomer and the D isomer.

 

Notation for distinguishing stereoisomers—

The four different substituents of an asymmetric carbon atom are assigned a priority according to atomic number. The lowest-priority substituent, often hydrogen, is pointed away from the viewer. The configuration about the carbon is called S, from the Latin sinis-ter for “left,” if the progression from the highest to the lowest priority is counterclockwise. The configuration is called R, from the Latin rectus for “right,” if the progression is clockwise.

Only amino acids are constituents of proteins. For almost all amino acids, the L isomer has S (rather than R) absolute configuration. Although considerable effort has gone into understanding why amino  acids in proteins have this absolute configuration, no satisfactory explanation has been arrived at. It seems plausible that the selection of  L over D was arbitrary but, once made, was fixed early in evolutionary history.


Reference: Biochemistry Berg et al 

RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi

Pertama2 saya belum pernah baca isi RUU APP, jadi mengenai konten dari RUU saya tidak mau komentar. Kedua, bagaimana kalau kita lihat contoh negara lain dalam masalah ini? Di Amerika Serikat, majalah porno di negara-negara bagian tertentu dijual dalam keadaan kovernya ditutup kantong hitam, jadi tidak bisa dilihat oleh siapa saja. Majalah porno yang dijual disana juga diatur supaya di setiap loper koran jangan sampai anak-anak bisa mengambilnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini industri pornografi di Amerika bangkrut, seperti Penthouse dan Maxim mengalami kerugian terus. Playboy masih bertahan, namun market mereka di merika sudah jenuh. Untuk mencari market baru...ya mereka ekspansi ke...Indonesia! Ketiga, muncul wacana di Amerika sana, supaya semua situs porno yang berakhiran .com (komersial), akan diganti dengan yang berakhiran .xxx (pornografi). Aturannya sedang dalam penggodokan kongres atau senat. Sehingga orang tua2 bisa melindungi anak-anaknya dengan menyetel program "net-nanny" supaya tidak mengakses situs .xxx. Keempat, di RRC (China) internet disensor habis-habisan oleh penguasanya. Jadi situs-situs pornografi akan sukar sekali dinikmati oleh warganya (kecuali kalau dia hacker profesional seperti Dani Firmansyah yang membobol KPU dulu! he..he..he). Kelima, di Amerika sendiri semua film komersial dirating oleh badan independen tertentu untuk menentukan apakah film itu untuk konsumsi semua orang, PG-13 untuk remaja, atau 18+ untuk orang dewasa. Dan pengawasan rating ini dilaksanakan secara konsekuen. Sehingga lagi-lagi orang tua dapat mengontrol aktivitas menonton bioskop anaknya. Bahkan katanya TV disana bisa disetel supaya misalnya chanel-chanel yang menayangkan pornografi bisa diblok. Mengenai RUU APP sendiri saya masih bingung sebenarnya. Apa kalau RUU APP nanti disahkan, yang namanya prostitusi dan sejenisnya itu akan diberantas? Kalau iya itu bagus, tapi itu terlalu muluk. Di Arab Saudi saja yang habis-habisan perang melawan prostitusi, kalau kita pergi ke kota Jeddah (pelabuhannya) kita masih dapat menemukan praktek prostitusi di sana. Bila itu tujuannya, apa itu tidak terlalu muluk? Juga yang menjadi pertanyaan saya, apa benar isu yang beredar, jika RUU APP disahkan, maka pemakaian kebaya atau pakaian tradisional lain yang "terbuka" akan dilarang? Bila iya justru saya semakin bingung dengan hal ini. Di Timur Tengah saja tari perut tidak pernah dilarang, karena tari perut dianggap warisan budaya yang perlu dilestarikan. Jadi aneh kalau misalnya orang Jawa dilarang pakai kebaya, atau orang Bali dilarang menggunakan pakaian tradisionalnya. Bila ukuran pornografi juga melingkupi pakaian tradisional bali, maka tari Bali harus dilarang. Berarti logika ini cukup untuk menghancurkan perekonomian Bali, yang menopang sebagian besar industri pariwisata kita. Bila logika seperti ini yang digunakan, industri pariwisata kita akan hancur dan akibatnya perekonomian kita akan habis juga. Konsekuensinya investor asing akan kabur dari Indonesia dan pengangguran meraja lela, dan kriminalitas meningkat. Huih...serem! Saya sebenarnya sampai sekarang masih bingung habis-habisan dengan definisi pornografi. Apakah kebaya dan pakaian tradisional Bali termasuk porno juga seperti kalau pakai bikini? Tapi masalah pemakaian bikini, penjaga pantai yang wanita jelas harus menggunakan bikini kalau bertugas. Kalau tidak, bagaimana mereka menolong orang yang tenggelam? Menolong orang yang tenggelam jelas perlu pakaian renang yang tipis! (walau tentu tidak setiap saat mereka menggunakan bikini)? Saya pada prinsipnya setuju bahwa pornoaksi dan pornografi harus dikontrol dan diatur, terutama untuk melindungi anak-anak kita dari pengaruhnya, dan supaya libido generasi penerus lebih bisa disalurkan ke kegiatan positif lain, seperti Seni/Sastra, Olah raga, sains, dll. Namun kalau akibat RUU APP itu keanekaragaman budaya kita dihancur-leburkan yang mengakibatkan perekonomian kita yang sudah parah menjadi hancur lebur...Ya saya tidak setuju dengan terjadinya hal ini. Kebaya Jawa, Pakaian tradisional Bali, dan berbagai manifestasi adat istiadat lainnya harusnya tidak dimasukkan dalam konteks RUU APP (walaupun saya belum baca isinya, tapi ada wacana dari beberapa ulama katanya semua itu masuk. Bingung saya!). Saya pikir seharusnya semua orang di forum ini sepakat bahwa tari Jawa dan tari Bali adalah seni, bukan pornoaksi. Masalah adat-istiadat harusnya diatur di undang-undang lain, dan RUU APP harusnya memfokuskan diri mengatur masalah distribusi majalah porno, VCD/DVD porno bajakan, cyberpornography dan prostitusi. Menjadi harapan saya supaya RUU APP tidak menjadi semacam "hatzai artikelen" atau UU Subversi yang diberlakukan di zaman orba dulu. Bila demikian, maka RUU APP bisa dijadikan instrumen untuk memberangus oposisi dan pihak yang kritis terhadap pemerintah untuk kemudian ditahan tanpa pengadilan, seperti sewaktu UU subversi diberlakukan. Saya juga prihatin bila justru RUU APP ini dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk me 'balkanisasi' Indonesia. Perpecahan di kalangan elit sampai ke akar rumput mengenai hal ini sudah cukup parah (padahal sebagian besar dari mereka, termasuk saya, bisa jadi belum pernah baca isinya). Bila akibat sebuah RUU APP Indonesia mengalami nasib seperti Yugoslavia, yang negaranya hancur berkeping-keping akibat sentimen etnis, ini harus dicermati. Saya khawatir jika keanekaragaman budaya bangsa dilibas dengan RUU APP, maka ini menjadi alasan yang cukup bagi provinsi-provinsi yang selama ini kurang diperhatikan pemerintah pusat untuk melakukan gerakan separatis. Mudah-mudahan saja ada yang memikirkan hal ini. Saya sebetulnya tetap menekankan bahwa saya tidak berada dalam posisi pro atau kontra dengan RUU APP (karena saya belum baca isinya dan saya tidak mau ikut-ikutan dalam pemihakan secara politik!). Namun saya harap, karena ini masalah politik, perseteruan antara kedua belah pihak yang berbeda pendapat hanya terbatas pada perseteruan politik, namun hubungan pribadi tetap baik. Bisa dilihat para founding father kita yang sering sekali berbeda pendapat dalam ranah politik, namun hubungan pribadi mereka tetap baik. Contohnya Ali Sostroamijoyo dari PNI dan M.Natsir dari Masyumi selalu berdebat keras mengenai masalah dasar negara. Ali Sostro, berpegangan pada Pancasila dan UUD'45, sementara M.Natsir pada Islam. Namun setelah keluar dari ruang debat, mereka makan siang bareng dan bercanda-canda bareng juga. Bung Karno dan Bung Hatta juga sering berbeda pendapat, namun hubungan pribadi tetap baik. Elit politik zaman sekarang saya lihat kacau balau, tidak mampu memisahkan secara profesional mana ranah politik, dan mana ranah pribadi. Masalah RUU APP ini saja ada beberapa pihak yang mengeksploitasi kelemahan pribadi lawannya. Benar-benar politik murahan! Saya harap kita lebih melihat pada founding father kita dalam mengelola perebedaan pendapat. Berbelit-belit ya tanggapan saya? Jelas, karena politik selalu memerlukan tanggapan yang berbelit-belit dan ruwet. Itu sebabnya saya apolitis, supaya hidup saya sederhana dan bersahaja!..he..he..he. Masalah seksualitas sebenarnya lebih ruwet lagi karena menyangkut masalah psikologi. Saya hentikan tanggapan 'politik yang apolitis' saya karena saya sudah semakin bingung. Arli AP K'97