Pengendalian Emosi
Pada dasarnya pengendalian emosi selalu menjadi tantangan bagi kita semua dalam mengaktualisasikan diri kita. Sukarnya memang, kalau kepala ini lagi mumet dan berisi segala macam pikiran yang berterbangan, dapat saja dengan mudah kita menjadi emosi. Padahal pemicu emosi itu hanya masalah kecil, tapi karena dikepala banyak berterbagan pikiran-pikiran lain yang lebih mumet, jadinya masalah kecil bisa menjadi besar.
Solusinya memang kita mesti bisa melakukan 'mind mapping'. Pertama, kita harus bisa menempatkan prioritas, mana hal-hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang belakangan. Kedua, kita pun juga harus bisa membedakan mana masalah kecil dan mana masalah besar. Masalah besar yang diselesaikan duluan, dan masalah kecil bisa diselesaikan dengan lebih santai. Ketiga, kita mesti lebih rileks dan santai dalam menghadapi permasalahan. Sering kali masalah itu datang dari orang-orang yang dekat dari kita. Sering kali kita merasa bahkan orang yang paling dekat dengan kita, ternyata tidak mampu memahami kita dengan baik. Sering kali pemikiran kita dianggap sepi oleh orang-orang yang kita cintai, namun justru lebih dihargai oleh orang lain diluar lingkaran dalam kita. Situasi ini menyakitkan dan ironis, karena tentu kita mengharapkan agar orang2 dekat kita mampu memahami kita, namun ternyata sering kali tidaklah demikian. Namun aku selalu ingat, bahwa Nabi sering sekali tidak dikenal atau bahkan ditolak di kampung halamannya. Justru diluar kampung halamannya mereka lebih terkenal. Ada kalanya kesabaran sangat penting dalam hal ini.
Solusi paling jitu dalam pengendalian emosi adalah sholat, sembahyang, atau meditasi dengan benar. Sebetulnya proses2 yang saya sebut didepan itu adalah proses relaksasi dan reporgramming pikiran, agar pengendalian emosi dapat dilakukan. Hal inilah yang harus dilakukan dengan sangat baik. Jika berhasil dengan baik, maka niscaya kita akan menjadi orang yang sabar dan tabah. It's just my one bucks coffee after all...:-)

Comments