Gagalnya negara dalam menjamin penghidupan rakyatnya dan pengambil alihan peran negara oleh keluarga: Posisi Riset dan Pendidikan Indonesia ditengah dominasi peran keluarga
Setelah saya berdiskusi sekian lama dengan pihak DAAD, yang telah melakukan perbandingan antara kehidupan sosio ekonomi di Jerman dan Indonesia, ternyata ada beberapa perbedaan fundamental yang perlu digaris bawahi diantara keduanya. Jelas kita tidak akan bicara tentang skala kemakmuran antara kedua negara, yang jelas sangat berbeda. Membandingkan ekonomi, riset, dan pendidikan Indonesia dan Jerman secara langsung jelas tidak pas. Kita akan membandingkan sisi perbedaan sosiologis antara kedua negara.
Hal pertama yang akan kita sorot, adalah peran keluarga dan negara. Di jerman, sampai sekitar 100 tahun yang lalu, keluarga masih memainkan peranan penting dalam menjamin kehidupan anggota-anggotanya. Keluarga adalah unit ekonomi yang bertugas menjadi organ otonom, yang memenuhi segala kebutuhan stake holdernya. Adapun, para pemikir eropa akhirnya menyadari, bahwa membebankan semua kebutuhan ekonomi pada keluarga akan menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan riset atau pendidikan yang mandiri. Jika pengembangan riset atau pendidikan ditumpukan pada keluarga, itu akan terlalu berat. Tidak mungkin ada riset atau pendidikan Oleh karena itu, mereka mengusulkan supaya peran negara diperkuat, sehingga negara menjadi organ yang berfungsi untuk memenuhi segala kebutuhan dari warga negaranya.
Di Eropa, negara mengatur segala hal mengenai sustainibilitas ekonomi warganya. Setiap warga negara diusahakan mendapatkan asuransi kesehatan dan jaminan sosial. Di Jerman, jaminan sosial itu berupa arbeitlosgeld, yaitu monthly allowance bagi para penganggur. Dengan dipenuhi segala kebutuhan dasarnya, maka penganggur tidak akan menjadi kriminal. Birokrasi dibuat efisien dan profesional , sehingga berperan untuk mengayomi warganya.
Berbeda sekali dengan Indonesia. Sampai detik ini, peran keluarga masih sangat dominan sebagai unit ekonomi, dan peran negara lemah sekali dalam menjamin penghidupan warganya. Tidak ada asuransi kesehatan yang baik bagi semua orang, dan tidak ada jaminan sosial yang benar. Birokrasi belum efisien. Begitu dominannya peran keluarga, bahkan sampai keluargapun bisa menentukan profesi dan jodoh dari setiap anggotanya. Berbeda sekali dengan di Eropa, dimana profesi dan jodoh itu adalah urusan masing-masing individu.
Selama peran negara lemah dan peran keluarga kuat, maka dapat dibayangkan dunia riset dan pendidikan Indonesia akan suram. Jelas keluarga manapun tidak ingin anaknya menjadi guru/dosen/ilmuwan, karena imbalannya sangat tidak memadai. Jelas mereka ingin setiap anaknya masuk kedalam profesi-profesi yang secara materi lebih menjanjikan. Pilihan profesi bagi setiap lulusan sarjana sangat terbatas, karena yang menjadi faktor utama adalah 'carrot and stick' berupa materi. Liberalisme seperti ini sangat sukar bagi pengembangan riset dan pendidikan di Indonesia. Jalan keluarnya entah bagaimana, karena menaikkan gaji guru/dosen/ilmuwan ditengah fluktuasi harga minyak dunia sekarang ini jelas tidak realistis.
Alhasil memang siapapun yang eksis di dunia riset atau pendidkan, maka menyambi adalah keharusan. Berkolaborasi dengan keluarga, untuk mengembangkan entrepreneurship adalah salah satu opsi yang baik untuk memperkuat perekonomian keluarganya sendiri. Ditengah gagalnya peran negara dalam menjamin penghidupan warganya, maka entrepreneurship adalah satu-satunya pilihan bagi kita untuk eksis secara sosio-ekonomi. Demikian dulu curhat aku.

Recent Comments