Sebuah refleksi: Sombongkah saya?
Lao Tzu berpendapat, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah jika ia meniru prinsip hidup dari...pohon bambu!. Pohon bambu itu akarnya kuat, dan mampu bertahan dari badai. Namun jika badai datang, dia akan bisa menunduk. Jika badai berlalu, dia akan berdiri tegak lagi. Saya adalah fans Lao Tzu dari sejak lama. Banyak filosofi dia yang mengajak manusia untukbersatu dengan alam dan dengan sesamanya.
Ada perbedaan antara kesombongan dengan mengkritisi ketidak adilan. Jika kita terseret kedalam situasi di tempat kerja, dimana rekan kita yang tidak pernah melakukan apa-apa dan tidak tahu apa-apa, namun dia mendapatkan apresiasi dari institusi tempat kerja kita. Sementara kita sendiri yang bekerja pontang-panting siang dan malam atas nama institusi, namun mereka tidak memberikan apresiasi sama sekali, bahkan kepegawaian kita pun juga masih belum beres, wajar sekali kan jika kita mengeluh? Namun apa pendapat anda, jika kita keluhkan keadaan ini, jawabannya dari atasan kita sangat singkat, 'Kamu jangan sombong dan menyangka kamu lebih baik dari mereka', lalu atasan kita membela habis-habisan orang yang kita kritik, bahkan bilang 'kamu jangan mengeluh saja!'.. Jika kejadiannya demikian, kita sudah menjadi korban politik kantor. Ini bukan masalah kesombongan, tapi masalah kezaliman atau ketidak adilan. Tidak ada gunanya apologi 'Saya tidak sombong dan tidak merasa lebih baik dari mereka', karena semua itu sudah skenario politik dari para petinggi....You are totally alineated from your office!
Politik kantor adalah suatu hal yang wajar dan terdapat dimana-mana. Entah kita bekerja di swasta, militer, pemerintahan, NGO, atau apapun, yang namanya politik kantor pasti eksis. Selalu ada klik-klik di kantor berdasarkan suku, agama, alamater, dll. Dalam pertarungan antar klik, selalu saja ada yang menjadi korban. Sering kali kita menolak mengakui politik kantor itu ada, padahal ia sangat riil. Jadi tentu saja politik kantor beda dengan kesombongan.
Saya sering kali menemui banyak orang yang lebih cerdas dari saya. Aku sendiri mengakui bahwa mereka berperan sangat penting dalam membantu perjalanan karir saya sebagai ilmuwan. Sukar dibayangkan, jika orang-orang itu tidak ada, jadi apa diri saya. Pertemuan dengan mereka menyebabkan saya selalu 'eling', bahwa selalu ada langit diatas kita. Namun saya sekali, orang-orang tersebut akhirnya selalu harus berpisah dengan saya. Perpisahan itu terjadi karena mereka mengadu nasib di luar negeri. Sedihnya, perpisahan itu terjadi karena negeri ini tidak mampu mengakomodasi idealisme mereka, alias mereka korban dari politik kantor juga. Hal yang sama juga akan saya lakukan dalam waktu dekat, yaitu hijrah ke luar negeri.
Disatu sisi saya bersyukur, bahwa saya akan melanjutkan studi di negeri dimana politik kantor hanya dilandaskan satu aspek, yaitu apresiasi bagi yang rajin, dan degradasi bagi yang malas. Di tempat saya melanjutkan studi nanti, tidak mungkin kita temui orang yang tidak bisa apa-apa malah mendapatkan apresiasi. Tidak peduli suku, agama, alamater, afiliasi politik, atau apapun, pokoknya yang berprestasi pasti mendapatkan apresiasi. Justru semakin tidak mungkin saya menjadi sombong, karena negeri tempat saya melanjutkan studi ini merasa bahwa mereka diatas segala-galanya di dunia. Tentu saja, saya harus bekerja keras supaya bisa memenuhi standar mereka.
Hal lain yang mesti saya syukuri, adalah di negeri ini, saya akan bertemu dengan teman-teman baru yang penuh idealisme, rajin, dan cerdas. Besar kemungkinan mereka ini jauh lebih cerdas dari saya, dan bukan tak mungkin mereka lebih muda dari saya. Saya sangat antusias untuk bisa bekerja sama dengan pemuda-pemuda yang penuh idealis, dan semoga saya bisa belajar banyak dari mereka.
Saya akan selalu memegang teguh prinsip sederhana....Jadilah seperti pohon bambu!. Dengan prinsip ini, kita bisa tetap rendah hati, namun tetap memiliki prinsip dan idealisme. Namun sedihnya lagi, jika nanti saya kembali ke Indonesia, saya justru mesti memanfaatkan politik kantor juga untuk mendapatkan posisi di sini. Jelas ini bukan berdasarkan prestasi saya, tapi berdasarkan klik. Susah juga......walaupun ini sekedar harapan, saya berharap jika saya kembali, institusi yang menerima saya semoga melihat prestasi saya, bukan dari mana klik saya. Buah simalakama, bagaimanapun saya harus tetap kembali ke Indonesia, karena saya berkewajiban membantu orang tua saya. Merekalah alasan paling kuat mengapa saya harus kembali ke negeri asal. Repotnya saya harus mengoptimasi apa yang saya pelajari di luar negeri, dengan kondisi di negeri asal. Perlu perjuangan.
Memang pernah ada beberapa orang yang mengingatkan saya, supaya jangan sombong. Saya sendiri juga agak heran, mengapa mereka ngomong demikian. Apa karena mereka melihat saya sangat terdidik, dan mereka banyak melihat 'plenty educated man become arrognant?', ndak tahu juga. Untungnya saya sendiri bukan tipe orang yang suka berceloteh sana-sini tentang prestasi saya. Walaupun saya ini sudah S2, dan InsyaAllah sebentar lagi S3, saya tidak pernah mencela-cela atau meremehkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah. Saya merasa merendahkan orang yang strata pendidikannya lebih rendah adalah buang-buang waktu dan tenaga, yang sebaiknya dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih berguna. Tokh apa gunanya mengagung-agungkan titel kita? Tokoh besar seperti Nabi Muhammad SAWdan Sokrates saja tidak memiliki ijazah, dan sangat kebablasan kalo kita yang memiliki ijazah merasa lebih tinggi dari mereka. Sebuah ironi melihat bahwa banyak sarjana menjadi Doktor atau profesor karena mempelajari pemikiran Sokrates dan Nabi, padahal objek kajian mereka sendiri tidak memiliki ijazah...:-). Lagipula titel tidak bisa dibawa ke liang lahat. Sebagai muslim, saya percaya bahwa amal baik saya yang akan dihisab di hari akhir, bukan titel saya. It doesn't seem right to believe that title will make us something.
Kisah yang juga menjadi inspirasi saya adalah kisah Firaun dan Nabi Musa as. Seperti yang sudah kita semua ketahui. Firaun adalah seorang raja yang sangat sombong. Ucapannya,'Bukankah aku adalah Tuhanmu', menunjukkan betapa arogannya dia. Adapun akhirnya air bah menenggelamkan dia dan armadanya. Sementara Nabi Musa as, yang awalnya adalah pangeran Mesir, justru mau bergabung dengan Bani Israil yang merana. Alhasil Bani Israil bisa mencapai tanah terjanji. Kasus Firaun selalu menjadi peringatan bagi saya mengenai nasib orang-orang sombog, yang akhirnya mengalami kehancuran.
Jadi...sombongkah saya? It's up to you to judge me guys...hihihi..:-).

Recent Comments