June 26, 2008

Bulan pertama di Jerman....

Disinilah aku, mendarat di tanah Jerman bersama DAAD Stipendien reguler angkatan ‘08. Alhasil saya sudah mendarat di kota Marburg, dan memulai kursus bahasa di Speak + Write. Di Marburg, rombongan kami berjumlah 5 orang. Ada yang dari UI, IPB, dan Departemen ESDM. Alhasil kami ditempatkan di wohnung yang nyaman di Richtsbergstrasse 88. Saya menshare wohnung dengan Pak Akbar dan Pak Hawis, di Erdgeschoss 4. Sementara temen saya, Verra dan Lita, di lantai 11. Biarpun berbeda lantai, komunikasi kami juga tetap baik. Di Marburg ini, memang mau tidak mau kita dipaksa untuk berbahasa Jerman. Dengan bahasa Jerman yang masih seadanya, kita harus berkomunikasi. Situasinya berbeda dengan kota besar, seperti Frankfurt atau Hannover, dimana kemampuan berbahasa Inggris sudah umum. Namun pada dasarnya aku senang di sini, karena bisa punya banyak teman. Ada teman dari US, bekas soviet, Palestina, Uganda, dan Korea Selatan. Itu baru teman sekelas, yang dari lain kelas ada dari Bangladesh, Thailand, India, dll. Menyenangkan sekali. Namun memang kita harus mencari cara untuk menghalau kebosanan yang kadang-kadang menghantui kita. Salah satu terapinya adalah dengan menulis blog. Satu hal yang juga menyenangkan, saya juga bertemu DAAD stipendien dari Indonesia, yaitu Kartika. Dia ternyata mengambil program profesional (non reguler), yang diperuntukkan untuk industri dan swasta. Cukup banyak juga informasi dari dia yang kudapat, karena dia sudah dari bulan april tiba di marburg ini. Sering kali kita suka punya perasaan rindu dengan keluarga kita, atau tunangan di tanah air. Syukurlah bagiku, ada obat untuk rasa rindu itu. Keluarga di Belanda sudah mengundang aku untuk pertemuan di Bulan Agustus. Jadi nanti aku akan ke Amsterdam. Yah..hitung-hitung menyambung lagi tali silaturahmi yang sempat terputus, karena jarak Indonesia dan Belanda yang sangat jauh. Pasti akan seru pertemuan itu, apalagi saudaraku sudah mengontak via handy untuk pertemuan demikian. Bagaimanapun memang aku berharap bisa bertemu orang tuaku lagi dan mengurus pernikahanku dalam waktu dekat. Adapun hal terakhir ini masih harus dilihat lagi, apakah feasible atau tidak. Awal bulan Juli ini, aku akan ke Hannover untuk bertemu profesorku. Semoga mengenai riset dan wohnung menjadi jelas setelah kami bertemu.

                            

October 11, 2007

Nothingness and simplicity

We live in complete nothingness.
Love is nothing.
Faith is nothing.
Direction is nothing.
Past, present, and future are nothing.
All we see, hear, feel, and touch are nothing as well.
Justice is a highway into the bliss of nothingness.
Nihilism is the direction of all movement.
We work, love, and hate for nothing.
The basis of our modern civilisation is only an illusion
An illusion of heaven, but in fact is a complete nihilsm.
Wealth, Power, and sex are considered everything.
But in fact, everything is a complete nothingness.
Nothingness is enlightment.
Nothingness is contemplation.
Nothingness is state of mind.
Some says that salvation is a necessity.
Nothingness is no salvation.
Beacuse salvation is only an illusion.
Illusion by a creative imagination of geniuses.
Terrorism is a cruel way to resist nihilsm of western civilisation.
But terrorism is nothingness and nihilsm as well.
Philosophy is nothing.
Teology is nothing.
Science is nothing.
So what is the point of livin'?
Happiness? Wealth? indoctrination or What?
The point is nothing.
Because livin' is nothing.
Live is only a temporary resting place.
A Place for rest a while.
So livin' is not worth thinking at all.
A wise sage once said: "We still have troble for thinking this live, why should we think for the death?"
Another sage once said: "Life is an illusion"
After that, it's none of our busisness.
Nature will take care of all our hustle
Harmony with the nature is the essence of all

RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi

Pertama2 saya belum pernah baca isi RUU APP, jadi mengenai konten dari RUU saya tidak mau komentar. Kedua, bagaimana kalau kita lihat contoh negara lain dalam masalah ini? Di Amerika Serikat, majalah porno di negara-negara bagian tertentu dijual dalam keadaan kovernya ditutup kantong hitam, jadi tidak bisa dilihat oleh siapa saja. Majalah porno yang dijual disana juga diatur supaya di setiap loper koran jangan sampai anak-anak bisa mengambilnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini industri pornografi di Amerika bangkrut, seperti Penthouse dan Maxim mengalami kerugian terus. Playboy masih bertahan, namun market mereka di merika sudah jenuh. Untuk mencari market baru...ya mereka ekspansi ke...Indonesia! Ketiga, muncul wacana di Amerika sana, supaya semua situs porno yang berakhiran .com (komersial), akan diganti dengan yang berakhiran .xxx (pornografi). Aturannya sedang dalam penggodokan kongres atau senat. Sehingga orang tua2 bisa melindungi anak-anaknya dengan menyetel program "net-nanny" supaya tidak mengakses situs .xxx. Keempat, di RRC (China) internet disensor habis-habisan oleh penguasanya. Jadi situs-situs pornografi akan sukar sekali dinikmati oleh warganya (kecuali kalau dia hacker profesional seperti Dani Firmansyah yang membobol KPU dulu! he..he..he). Kelima, di Amerika sendiri semua film komersial dirating oleh badan independen tertentu untuk menentukan apakah film itu untuk konsumsi semua orang, PG-13 untuk remaja, atau 18+ untuk orang dewasa. Dan pengawasan rating ini dilaksanakan secara konsekuen. Sehingga lagi-lagi orang tua dapat mengontrol aktivitas menonton bioskop anaknya. Bahkan katanya TV disana bisa disetel supaya misalnya chanel-chanel yang menayangkan pornografi bisa diblok. Mengenai RUU APP sendiri saya masih bingung sebenarnya. Apa kalau RUU APP nanti disahkan, yang namanya prostitusi dan sejenisnya itu akan diberantas? Kalau iya itu bagus, tapi itu terlalu muluk. Di Arab Saudi saja yang habis-habisan perang melawan prostitusi, kalau kita pergi ke kota Jeddah (pelabuhannya) kita masih dapat menemukan praktek prostitusi di sana. Bila itu tujuannya, apa itu tidak terlalu muluk? Juga yang menjadi pertanyaan saya, apa benar isu yang beredar, jika RUU APP disahkan, maka pemakaian kebaya atau pakaian tradisional lain yang "terbuka" akan dilarang? Bila iya justru saya semakin bingung dengan hal ini. Di Timur Tengah saja tari perut tidak pernah dilarang, karena tari perut dianggap warisan budaya yang perlu dilestarikan. Jadi aneh kalau misalnya orang Jawa dilarang pakai kebaya, atau orang Bali dilarang menggunakan pakaian tradisionalnya. Bila ukuran pornografi juga melingkupi pakaian tradisional bali, maka tari Bali harus dilarang. Berarti logika ini cukup untuk menghancurkan perekonomian Bali, yang menopang sebagian besar industri pariwisata kita. Bila logika seperti ini yang digunakan, industri pariwisata kita akan hancur dan akibatnya perekonomian kita akan habis juga. Konsekuensinya investor asing akan kabur dari Indonesia dan pengangguran meraja lela, dan kriminalitas meningkat. Huih...serem! Saya sebenarnya sampai sekarang masih bingung habis-habisan dengan definisi pornografi. Apakah kebaya dan pakaian tradisional Bali termasuk porno juga seperti kalau pakai bikini? Tapi masalah pemakaian bikini, penjaga pantai yang wanita jelas harus menggunakan bikini kalau bertugas. Kalau tidak, bagaimana mereka menolong orang yang tenggelam? Menolong orang yang tenggelam jelas perlu pakaian renang yang tipis! (walau tentu tidak setiap saat mereka menggunakan bikini)? Saya pada prinsipnya setuju bahwa pornoaksi dan pornografi harus dikontrol dan diatur, terutama untuk melindungi anak-anak kita dari pengaruhnya, dan supaya libido generasi penerus lebih bisa disalurkan ke kegiatan positif lain, seperti Seni/Sastra, Olah raga, sains, dll. Namun kalau akibat RUU APP itu keanekaragaman budaya kita dihancur-leburkan yang mengakibatkan perekonomian kita yang sudah parah menjadi hancur lebur...Ya saya tidak setuju dengan terjadinya hal ini. Kebaya Jawa, Pakaian tradisional Bali, dan berbagai manifestasi adat istiadat lainnya harusnya tidak dimasukkan dalam konteks RUU APP (walaupun saya belum baca isinya, tapi ada wacana dari beberapa ulama katanya semua itu masuk. Bingung saya!). Saya pikir seharusnya semua orang di forum ini sepakat bahwa tari Jawa dan tari Bali adalah seni, bukan pornoaksi. Masalah adat-istiadat harusnya diatur di undang-undang lain, dan RUU APP harusnya memfokuskan diri mengatur masalah distribusi majalah porno, VCD/DVD porno bajakan, cyberpornography dan prostitusi. Menjadi harapan saya supaya RUU APP tidak menjadi semacam "hatzai artikelen" atau UU Subversi yang diberlakukan di zaman orba dulu. Bila demikian, maka RUU APP bisa dijadikan instrumen untuk memberangus oposisi dan pihak yang kritis terhadap pemerintah untuk kemudian ditahan tanpa pengadilan, seperti sewaktu UU subversi diberlakukan. Saya juga prihatin bila justru RUU APP ini dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk me 'balkanisasi' Indonesia. Perpecahan di kalangan elit sampai ke akar rumput mengenai hal ini sudah cukup parah (padahal sebagian besar dari mereka, termasuk saya, bisa jadi belum pernah baca isinya). Bila akibat sebuah RUU APP Indonesia mengalami nasib seperti Yugoslavia, yang negaranya hancur berkeping-keping akibat sentimen etnis, ini harus dicermati. Saya khawatir jika keanekaragaman budaya bangsa dilibas dengan RUU APP, maka ini menjadi alasan yang cukup bagi provinsi-provinsi yang selama ini kurang diperhatikan pemerintah pusat untuk melakukan gerakan separatis. Mudah-mudahan saja ada yang memikirkan hal ini. Saya sebetulnya tetap menekankan bahwa saya tidak berada dalam posisi pro atau kontra dengan RUU APP (karena saya belum baca isinya dan saya tidak mau ikut-ikutan dalam pemihakan secara politik!). Namun saya harap, karena ini masalah politik, perseteruan antara kedua belah pihak yang berbeda pendapat hanya terbatas pada perseteruan politik, namun hubungan pribadi tetap baik. Bisa dilihat para founding father kita yang sering sekali berbeda pendapat dalam ranah politik, namun hubungan pribadi mereka tetap baik. Contohnya Ali Sostroamijoyo dari PNI dan M.Natsir dari Masyumi selalu berdebat keras mengenai masalah dasar negara. Ali Sostro, berpegangan pada Pancasila dan UUD'45, sementara M.Natsir pada Islam. Namun setelah keluar dari ruang debat, mereka makan siang bareng dan bercanda-canda bareng juga. Bung Karno dan Bung Hatta juga sering berbeda pendapat, namun hubungan pribadi tetap baik. Elit politik zaman sekarang saya lihat kacau balau, tidak mampu memisahkan secara profesional mana ranah politik, dan mana ranah pribadi. Masalah RUU APP ini saja ada beberapa pihak yang mengeksploitasi kelemahan pribadi lawannya. Benar-benar politik murahan! Saya harap kita lebih melihat pada founding father kita dalam mengelola perebedaan pendapat. Berbelit-belit ya tanggapan saya? Jelas, karena politik selalu memerlukan tanggapan yang berbelit-belit dan ruwet. Itu sebabnya saya apolitis, supaya hidup saya sederhana dan bersahaja!..he..he..he. Masalah seksualitas sebenarnya lebih ruwet lagi karena menyangkut masalah psikologi. Saya hentikan tanggapan 'politik yang apolitis' saya karena saya sudah semakin bingung. Arli AP K'97

August 31, 2007

Teori versus Praktek...Mana yang lebih penting?

Rata-rata jika kebanyakan orang ditanyakan hal ini, pasti akan menjawab praktek. Jawaban ini sudah jelas arahnya, karena hanya seorang praktisi yang bisa menghasilkan...uang dan kekuasaan (menurut mereka). Selalu praktek..praktek...dan praktek. Dalam situasi dimana paham pragmatisme menguasai kesadaran kita, pemikiran seperti itu tentu saja meraja lela. Namun selalu menjadi pertanyaan di benak saya, jika praktek itu lebih penting, kapan orang itu berpikir? Berpikir dalam hal ini untuk mempertimbangkan langkah apa yang akan dia ambil, dan konsekuensinya kedepan? Bukankah berpikir adalah aktivitas dasar manusia, untuk bertahan hidup dan memecahkan masalahnya? Jawaban 'praktek itu lebih penting' mengesankan bahwa keputusan yang kita ambil sama sekali tidak menggunakan pertimbangan yang matang. Malah mungkin tanpa pertimbangan sama sekali. Prinsip demikian sama dengan prinsipnya Josef Stalin, pemimpin Uni Soviet, yang berpikir bahwa 'bertindak dahulu, berpikir kemudian'. Akibatnya, 30 juta rakyat Soviet tewas karena pemerintahan tangan besinya. Prinsip 'berpikir kemudian' dari Stalin, yang mendorong dia untuk mendeportasi 1 juta orang etnis minoritas Soviet ke Siberia, karena mencurigai mereka 'berkolaborasi dengan Nazi Jerman'. Semua tindakan Stalin itu tanpa ada bukti sama sekali. Sama juga dengan paranoia Hitler dengan 'masalah Yahudi', itu berdasarkan prinsip 'bertindak dahulu, berpikir kemudian'. Juga paranoia para diktator atau tiran lain di muka bumi ini, seperti itu juga. Atau malah prinsip mereka 'bertindak dahulu, dan tak usah berpikir' ? Maaf saja, kalau sudah begini, bahkan primata saja masih lebih baik dari kita. Saya yakin semua ahli biologi hewan akan setuju, bahwa primata dalam tingkat tertentu masih bisa berpikir. Bukankah manusia adalah primata yang paling beradab? Bila demikian, mengapa pola pikirnya kadang bisa lebih payah daripada primata yang paling primitif sekalipun? Semua tidak lain karena paradigma 'praktekisme' tersebut.

Bila kita masuk dunia bisnis atau politik dewasa ini, prinsip 'praktekisme' seperti ini sudah umum. Seorang pejabat tinggi negara mengklaim, bahwa ia memilih kroninya untuk menduduki posisi yang tinggi, karena ia lebih tahu masalah 'praktek ekonomi' daripada orang lain. Ternyata si kroni itu terlibat masalah bencana pencemaran lingkungan, yang sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya (Bisa tebak sendiri kan maksudnya siapa?). Selalu diklaim bahwa teori itu tidak penting, yang paling penting praktek. Namun apakah pemikiran demikian ini bijak? Bila praktek itu paling penting, sekarang seharusnya Indonesia itu makmur dong, karena dipimpin oleh pejabat yang 'paling tahu praktek'. Namun ternyata masih seperti ini. Bahkan para pejabat yang 'paling tahu praktek' pun tidak bisa berbuat apa-apa sewaktu wasit karate Indonesia disiksa oleh polisi Malaysia. Pejabat yang 'paling tahu praktek'pun belum berhasil menggerakkan sektor riil perekonomian kita yang macet. Ada apa ini? Quo Vadis kabinet Indonesia Bersatu?

Sama juga bila orang menganggap teori itu paling penting, ya itu berarti bahwa sang individu ingin memasuki alam 'para dewata'. Dia ini sibuk dengan khayalannya sendiri, yang tidak pernah ditransformasikan menjadi kenyataan. Pola pikir seperti ini, banyak mencengkram para akademisi dan ilmuwan, yang mengaku 'idealis', sehingga mereka memberi pesan jelas bahwa uang dan kekuasaan itu tidak ada artinya. Ini sama anehnya dengan paham 'praktekisme'. Inilah paham 'teoriisme'. Paham ini juga menyajikan kemunafikan yang sama dengan praktekisme. Kalo mereka mau jujur, untuk hidup di Indonesia ini, perlu duit ngaak? Untuk menggunakan toilet di Blok M Plaza saja kita harus bayar. Bila dia sudah menikah, perlu ngaak istrinya diberi nafkah dan anaknya diberikan pendidikan yang terbaik? Perlu ngaak kita memiliki penghidupan yang layak sebagai akademisi? Jelas perlu, dan itu perlu uang. Biaya hidup di Jakarta itu tinggi dan perlu kerja yang smart untuk memenuhinya. Kalau praktekisme itu bisa dianalogikan dengan primata, maka kalau 'teoriisme' bisa analogikan dengan binatang dewa seperti naga dan phoenix. Seakan-akan keren naga itu, karena pada horoskop Tiongkok shio naga itu adalah shio yang terbaik. Namun kenyataannya, dalam ilmu biologi, naga itu tidak ada. Mereka memasuki 'alam para dewa', yang sebenarnya tidak ada   Berarti...hanya lamunan saja dong, aksinya tidak ada. Para penganut 'teoriisme' selama ini hanya mengejar bayang-bayang mereka sendiri, yang sebenarnya bukan apa-apa. Jangan lupa, bahwa Mahatma Gandhi adalah seorang idealis yang memiliki nama baik, yang juga bapak bangsa India. Namun tragisnya, sepeninggal sang ayah, anaknya Gandhi terlunta-lunta dalam kemiskinan. Stalin dan Gandhi, ternyata bukan sosok yang sempurnya seperti yang kita bayangkan. Memang wajar demikian, karena tidak ada satu orangpun yang sempurna. Namun tetaplah kita hormati mereka. Namun mari kita menjahit secara lebih objektif, dimana sesungguhnya posisi teori dan praktek yang cocok.Mungkin untuk menutup polemik ini saya ambil beberapa cerita dari orang-orang terkenal, yang sangat menginspirasi saya.

Kisah pertama adalah tentang Henry Ford.  Ford sekarang ini dikenal sebagai salah satu 'bapak otomotif dunia'. Namun siapa yang sangka, bahwa pada tahun-tahun sebelum dia terkenal, dia itu hidupnya sangat sederhana. Namun, walaupun belum kaya, dia memiliki idealisme yang sangat menggebu-gebu. Walaupun tidak pernah kuliah, itu tidak menghalanginya untuk berkreasi. Dalam imajinasi Ford, dia percaya bahwa pada akhirnya Amerika akan memiliki mobil pribadi yang kuat, handal, dan terjangkau. Untuk merealisasikan hal ini, dia jadikan garasi belakang rumahnya sebagai laboratorium eksperimen otomotifnya. Setiap kali dia keluar rumah, selalu saja para tetangga mecibir dia, dengan menganggap bahwa dia sudah gila. Namun Ford tidak peduli. Pada akhirnya, mobilnya sudah selesai, dan diuji coba keliling perumahan. Lucunya, tetangganya yang dulu mencibirnya, malah bertepuk tangan dan mengucapkan selamat ke dia.

Kisah kedua adalah mengenai Andy Groove. Groove dikenal sebagai salah satu anggota triumvat pendiri Intel Corporation. Sekarang dia sudah pensiun dari posisinya sebagai Chairman and CEO Intel . Sekarang ini, 4 dari 5 PC di dunia, diotaki oleh prosesor Intel. Namun siapa sangka, Groove memiliki masa lalu yang penuh perjuangan. Dia sebenarnya lahir di Hongaria dengan nama aseli Andrej Graf, dan beretnis Yahudi. Sewaktu Nazi Jerman menyerang Hongaria, dia dan keluarganya melarikan diri ke Amerika. Dalam keadaan masih buta sama sekali dengan bahasa Inggris, dia berusaha keras untuk menguasai bahasa itu, dan akhirnya bisa. Karena kerja kerasnya, ia memiliki pendidikan yang tinggi, sampai mendapatkan PhD dari Departemen Teknik Kimia Stanford University. Walaupun menjadi busisnessman, ia sesekali masih mengajar di beberapa universitas. Karena keuletan dan pendidikannya yang bagus, ia berhasil menjadi tim engineering Intel. Prosesor Intel Pentium yang dikenal dan sukses besar sampai sekarang ini, merupakan produk yang diluncurkan dibawa kepemimpinan Andy.

Mungkin dua kisah yang saya jabarkan mengenai Ford dan Groove memberi inspirasi kepada kita semua, bahwa pada dasarnya teori dan praktek itu adalah satu kesatuan. Seperti Siang dan Malam, Panas dan Dingin; semua itu adalah satu kesatuan. Hanya dengan menggabungkan teori dan praktek, seseorang bisa memiliki kekayaan lahirian dan batiniah. Kita pisahkan dan anggap yang satu lebih penting, maka kita tidak akan medapatkan apa-apa. Kesimpulan: kesuksesan hanya berada di tangan setiap insan yang mampu memadukan teori dan praktek secara elegan.

July 15, 2007

Kebijaksanaan menuju integrasi ilmu-ilmu

Hari-hari ini, di Universitas Indonesia (UI) sedang dilakukan pemilihan rektor. Saya, yang seorang peneliti muda, menunggu dengan antusias akan adanya perubahan di kampus kuning ini. Setelah selama 20 tahun didominasi Fakultas Kedokteran di salemba, akhirnya ketiga calon rektor yang terpilih berasal dari ‘non-salemba’. Mereka berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Dari ketiga calon, hanya satu orang yang dokter, itupun sudah tidak praktek selama 22 tahun. Jadi, setelah 20 tahun dipimpin oleh para dokter, dapat dipastikan bahwa seorang non-dokter akan menjadi rektor. Apakah ini angin perubahan? UI selama 20 tahun dipimpin Fakultas Kedokteran tentu telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan. Nampak jelas sekali. Misalnya UI mencapai peringkat 250 dunia dari 520 universitas menurut THES-QS. Dibangunnya Institute of Human Virology and Cancer Biology (IHVCB), aplikasi SIAK-NG dan mulai demokratisnya proses pemilihan rektor menunjukkan hal itu. Namun secara objektif, ada hal-hal dimana UI tertinggal dengan universitas lain.

 

Berdasarkan laporan Ditjen-Dikti tahun 2006, UI telah menyerahkan 36 laporan penelitian ke Dikti. Sementara ITB menyerahkan 53 laporan. Ok, kita tertinggal sedikit dari ITB. Mungkin ini hanya menunjukkan ada laporan yang telat diserahkan, atau yang memang tidak diserahkan. Namun selanjutnya ini data yang lebih mengejutkan, UGM dan IPB masing-masing telah menyerahkan 360 dan 320 laporan !. Perbedaannya bisa begitu jomplang! Adaapa dengan UI? Quo Vadis UI? Selama ini, sebenarnya UI melakukan penelitian atau tidak sih? Atau jangan-jangan hanya banyak-banyak buka program studi- program studi, yang menghasilkan lulusan2, yang laporan penelitannya dibiarkan berdebu di perpustakaan fakultas karena tidak pernah dipublikasi? Hal ini yang belum bisa diselesaikan dalam 20 tahun kepemimpinan FK. Sementara itu, secara internasional, parameter untuk menentukan kualitas universitas bukanlah peringkat2 seperti diatas, namun……banyaknya jumlah nobel laureate yang dihasilkan universitas tersebut. Ini jelas2 rumit. Jangankan UI, secara nasional saja tidak ada satu universitaspun di Indonesia yang mampu mencetak nobel laureate. Lalu kedepannya UI menghadapi tantangan yang sangat berat, terutama dari segi keuangan. Negara secara perlahan-lahan mencabut subsidi, jadi otomatis UI harus mencari uang sendiri. Ini sebabnya UI perlu memikirkan pendirian inkubator bisnis atau sejenisnya, untuk mencetak entrepreneur2 yang dapat bekerja sama untuk menguntungkan cash flow UI. Dan tentu saja, cash flow tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan, yaitu dengan diaudit oleh akuntan publik yang independen. Tantangan terberat memang bagaimana UI menjadi ‘world class research university’, dan ini perlu waktu untuk mencapainya.

 

Namun sekali-lagi, apakah dengan naiknya rektor ‘non-salemba’, akan terjadi perubahan? Di satu sisi saya jawab ya, karena tentu saja seorang dokter dan seorang non-dokter mempunyai persepektif yang berbeda dalam menyelesaikan masalah. Tentu saja dalam gaya kepemimpinan akan ada perubahan drastis. Selama 20 tahun UI dipimpin oleh dokter, telah banyak perubahan luar biasa yang dialami UI. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada FK-UI, yang telah membawa UI kepada keadaannya yang baik saat ini. Namun kedepannya, akan lebih banyak perubahan lagi yang kita lihat, karena akan ada nuansa kepemimpinan yang berbeda. UI akan memiliki seorang pemimpin yang membawa ide-ide segar, dan penuh dengan dinamika baru. UI akan memiliki seorang pemimpin yang berasal dari akar rumput, cerdas namun membumi. Dan UI akan memiliki seorang pemimpin yang visioner, mampu melihat masa depan, dan bekerja keras untuk memotivasi bawahannya dan dirinya untuk menggapai masa depan penuh harapan. Namun di sisi lain,sangat disayangkan, harus saya katakan bahwa tidak akan ada perubahan. Sama sekali tidak.

 

Apa maksudnya ini? Paradoks sekali. Kok satu sisi tidak ada perubahan? Bagaimana ini? Secara singkat, selama hampir 60 tahun UI berdiri, yang terjadi adalah timbulnya kerajaan-kerajaan kecil. Mereka adalah fakultas-fakultas. Kalau dalam sistim monarki absolut, bisa dibayangkan jika rektor itu kaisar (raja diraja), seorang dekan adalah seorang raja (tentu perbandingan yang agak jauh, karena UI jauh lebih demokratis dari sistim seperti itu). Setiap fakultas memiliki agenda sendiri-sendiri, yang sangat sukar untuk disatukan. Perbandingan lain seperti otonomi daerah di Indonesia Provinsi-provinsi sekarang kan adalah kerajaan-kerajaan kecil, yang sukar sekali diatur oleh pusat. UI keadaannya seperti itu lah. Dalam keadaan ini, perjuangan untuk menjadi rektor tak lebih adalah agenda politik dari masing masing fakultas. UI memiliki 12 fakultas, yang dikelompokkan jadi tiga, yaitu kelompok kesehatan, Sosial-Humaniora, dan Sains-Teknologi. Setiap kelompok ini memliki agenda politik, yang tertinggi tentu saja adalah kursi rektor. Di satu sisi kelihatannya ini sangat wajar. Wajar dong kalau ada ‘like and dislike’ dalam suatu organisasi. Wajar dong kalau ada politik organisasi, dan wajar juga dong kalau setiap kelompok punya agenda politik. Apabila kita baca literatur ekonomi politik, pengelompokan dan pembentukan klik seperti itu, dalam rangka memperoleh kekuasaan dan modal, merupakan keharusan yang tak dapat dihindarkan. Semua organisasi, di pemerintahan, swasta, ataupun LSM mengalami hal yang sama. Namun ada satu hal yang tidak wajar. Hal itu adalah, semua pengelompokan itu berbasis pada egoisme sektoral.

 

Seorang bijak pernah berkata, bahwa ‘air sungai akan mengalir kepada laut yang sama’. Semangat ini yang jelas tidak ada di UI. Egoisme sektoral, terasa sangat kental sekali di UI. Saya agak malas memberi contoh, karena rasa-rasanya para sidang pembaca bisa lihat sendiri UI itu bagaimana. Bila demikian caranya, akan sangat sukar UI bisa berkembang. Saya sebenarnya berharap, pengelompokan atau pembentukan klik itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keilmuan yang kita sandang. Misalnya pembentukan klik atas dasar angkatan, atau atas dasar pertemanan, bahkan atas dasar ideologi pun, bila kita mengacu literatur ilmu politik, itu sah-sah saja (walaupun saya kurang sreg dan kurang suka kalau ideologi masuk ke dunia akademis, karena di eropa barat misalnya, hal demikian tidak terjadi). Tapi ini tidak demikian. Pertanyaan selanjutnya, apakah yang bisa dilakukan rektor baru untuk mendobrak egoisme sektoral ini? Saya bisa jawab agak sulit beliau bisa berbuat banyak. Hal ini sudah mendarah daging di UI. Namun mungkin saya bisa memberikan beberapa perspektif untuk keluar dari jalan buntu ini, yang akan saya jabarkan dibawah. Mudah2an bisa menjadi masukan bagi UI, maupun pihak lain yang berkepentingan. Saya menulis ini semata untuk kebaikan UI dan bangsa ini.

 

Di masa lalu, para filusuf Yunani Klasik menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah berupa satu kesatuan yang koheren. Di mata seorang Plato dan Aristoteles misalanya, mereka tidak membayangkan bahwa ilmu itu terpecah-pecah menjadi Kesehatan, Sosial-Humaniora, atau Sains-Teknologi (lebih2 jaman Yunani Klasis Sains-Tek belum berkembang). Kebijakan Yunani Klasik adalah, ilmu2 tersebut adalah bagian dari ‘broader picture of wisdom’. ‘Broader picture of wisdom’ tersebut adalah filsafat. Filsafat adalah ‘matter scientarum’ atau induk dari semua ilmu. Jadi bagi seorang filosof, kontradiksi antara ilmu sosial dan alam, misalnya seperti yang terjadi di UI, itu adalah ‘contradictio in terminis’. ‘contradictio’ karena adalah suatu absuditas melihat salah satu bagian dari filsafat, mengkontradiksi bagian yang lain. Bila ada kontradiksi seperti itu, maka filsafat akan tidak ada. Dan ini tidak mungkin. Jadi pandangan dunia (weltanschaung) seorang Plato dan Aristoteles itu begitu koheren, holistik, dan menyeluruh. Kebijakan ini diteruskan oleh para filosof muslim seperti Al-Farabi, Ibn-Sina, dan Ibn-Rusyd. Bagi para filosof muslim, semua ilmu, apabila dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia, akan membawa kita pada ridha Ilahi juga. Seorang Ibn-Rusyd misalnya, beliau ada dokter, filosof, dan ulama sekaligus. Sementara, Al-Farabi adalah seorang dokter dan musisi sekaligus (Seperti Tompi kali yee?). Namun akhirnya di eropa, setelah literatur filsafat kaum muslimin dibaca oleh para intelektual mereka, terjadi perkembagan lain.

 

Di abad ke 17, Rene Descartes akhirnya memulai ‘salvo tembakan pertama’ untuk melepaskan ilmu-ilmu positif dari filsafat. Descartes berpendapat bahwa alam semesta ini bekerja sebagai suatu mesin. Dia memberi analogi…bahwa alam semesta ini bekerja seperti mesin jam dinding!. Dalam konteks itu, untuk mengetahui bagaimana mesin tersebut bekerja, tentu diperlukan instrumen yang tangguh. Instrumen itu adalah matematika. Matematika di tangan Descartes, menjadi ‘tools’ yang handal, untuk membaca dan membongkar rahasia alam semesta. Oleh sebab itu, Descartes menciptakan kajian geometri analitis, yang berguna untuk mengkuantifikasi segala aspek dari alam semesta ini. Kordinat Cartesius, yang sangat kita kenal di pelajaran matematika, adalah memang buah tangan Descartes. Dengan demikian, ilmu matematika melepaskan diri dari filsafat. ‘Salvo tembakan kedua’, ketika Isaac Newton merumuskan hukum gravitasinya. Newton berpendapat bahwa hukum gravitasi adalah hukum universal yang mengatur pergerakan di alam semesta ini. Dengan demikian ilmu fisika melepaskan diri dari filsafat. ‘Salvo tembakan ketiga’, terjadi ketika August Comte mendeklarasikan bahwa ia menemukan ilmu positif baru, yaitu sosiologi. Comte mengklaim bahwa ilmu barunya dia ini dapat menemukan hukum2 yang mengatur perkembangan dan dinamika masyarakat. Dengan demikian sosiologi melepaskan diri dari filsafat. ‘pelepasan-pelepasan’ ini terjadi sampai abad ke 21 ini. Namun ada beberapa perkembangan positif. Di Perancis, filsafat diajarkan sebagai mata pelajaran wajib untuk siswa kelas tiga smu, sebelum ia mendapatkan baccalaureatnya (ijazah smu/lycee). Jadi di eropa, filsafat selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan integrasi keilmuan. Kita juga mengenal seorang Alfred North Whitehead, seorang pakar matematika, yang pada masa kuliah bachelor nya sudah menguasai filsafatnya Immanuel Kant. Dan juga Karl Jaspers, seorang dokter yang juga seorang filosof. Jadi rasanya di eropa sana, integrasi keilmuan dalam batas tertentu masih terjadi, terima kasih kepada filsafat. Disana, Ilmu memiliki arah dan makna, karena pengarahan dari filsafat.

 Sekarang, Quo Vadis UI dan Indonesia? Di Indonesia, bila kita bicara filsafat, siap-siap saja kita dicurigai atau dianggap aneh (bahkan murtad oleh kalangan tertentu!). Bahkan ada saja kalangan yang berpendapat bahwa filsafat itu bertentangan dengan agama. Mengapa demikian? Bukankan Al-Farabi berpendapat, bahwa filsafat itu adalah kebenaran akal, sementara agama adalah kebenaran wahyu, sehingga seharusnya kebenaran akal dan kebenaran wahyu itu saling melengkapi? Apa artinya agama jika dijalankan tanpa akal? Para ‘founding father’ kita adalah para pencinta filsafat. Bung Karno dan Bung Hatta membaca Karl Marx, Hegel, ataupun Plato-Aristoteles. Sudah kita lihat sendiri bahwa ‘founding father’ kita adalah orang-orang yang paling bijak pada zamannya, karena mereka membaca filsafat. So, why not we? Contoh Bung Karno dan Bung Hatta, mereka tetap yakin dengan keIslaman mereka, walaupun mereka membaca filsafat sampai dalam sekali. Justru malah semakin yakin dengan agama mereka. Saya tidak menganjurkan supaya anak kelas tiga sma diajarkan filsafat. Ini tidak bijak sama sekali. Saya hanya menganjurkan, supaya filsafat lebih disosialisasi kepada kalangan teknokrat, supaya egoisme sektoral mereka menjadi tidak ada. Kepada kalangan yang lebih tua mungkin sulit, tapi terhadap yang muda-muda, masih ada harapan. Sebenarnya, akan lebih ideal kalau mahasiswa memiliki Mata kuliah umum filsafat, tapi ini terlalu jauh lah. Mungkin ada prioritas lain.

 

Akhirnya kita berada di bagian penutup dari tulisan ini. Kadang-kadang saya suka geli kalau melihat beberapa orang itu berbicara membandingkan ilmunya dengan ilmu lain, untuk kemudian menyimpulkan bahwa ilmunya lebih unggul daripada ilmu lain. Saya sangat sering bertemu orang-orang seperti itu. Saya sering kali geli bercampur heran dengan orang seperti itu. Kenapa sih beliau2 ini tidak melihat dalam perspektif yang lebih luas? Kenapa sih tidak bisa dilihat bahwa semua ilmu berasal dari induk yang sama, yaitu filsafat? Well, mungkin dia ini sudah tak bisa berubah, dan kita harus menerima pandangannya dia apa adanya. Kita beritahu begini-begitu pun tak ada gunanya. Saya memang secara formal adalah kimiawan yang bergerak di bidang bioteknologi, tapi saya sendiri tidak ambil pusing kalau ada orang-orang yang membandingkan ilmu alam begini dengan ilmu sosial begitu. Karena saya sendiri adalah orang yang sangat suka dengan filsafat. Sangat-sangat suka. Perbandingan-perbandingan tersebut tak lebih menunjukkan bahwa orang tersebut tidak pernah baca literatur filsafat sedikitpun, jadi buat apa saya pikirkan. Bila orang itu suka filsafat, dia akan melihat dalam perspektif yang lebih holistik. Bila dilakukan perbandingan pun, akan lebih diarahkan dalam perspektif, bahwa semua ilmu berasal dari induk yang sama, dan akan mengalir kepada laut yang sama juga. Bila perbandingannya justru ‘diadu ayam’ seperti kasus egoisme sektoral, ya ini berarti dia ndak ngerti filsafat. Bila demikian sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. Di Indonesia, saya harus menerima keadaan apa adanya, ya seperti itu lah. Saya tidak berpretensi mau mengubah orang lain, karena orang yang harus dirubah itu adalah diri saya sendiri. Saya harus merubah diri saya sendiri untuk menerima keadaan apa adanya. Terima kasih atas perhatiannya.