April 27, 2008

Gagalnya negara dalam menjamin penghidupan rakyatnya dan pengambil alihan peran negara oleh keluarga: Posisi Riset dan Pendidikan Indonesia ditengah dominasi peran keluarga

Setelah saya berdiskusi sekian lama dengan pihak DAAD, yang telah melakukan perbandingan antara  kehidupan sosio ekonomi di Jerman dan Indonesia, ternyata ada beberapa perbedaan fundamental yang perlu digaris bawahi diantara keduanya. Jelas kita tidak akan bicara tentang skala kemakmuran antara kedua negara, yang jelas sangat berbeda. Membandingkan ekonomi, riset, dan pendidikan Indonesia dan Jerman secara langsung jelas tidak pas. Kita akan membandingkan sisi perbedaan sosiologis antara kedua negara.

Hal pertama yang akan kita sorot, adalah peran keluarga dan negara. Di jerman, sampai sekitar 100 tahun yang lalu, keluarga masih memainkan peranan penting dalam menjamin kehidupan anggota-anggotanya. Keluarga adalah unit ekonomi yang bertugas menjadi organ otonom, yang memenuhi segala kebutuhan stake holdernya. Adapun, para pemikir eropa akhirnya menyadari, bahwa membebankan semua kebutuhan ekonomi pada keluarga akan menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan riset atau pendidikan yang mandiri. Jika pengembangan riset atau pendidikan ditumpukan pada keluarga, itu akan terlalu berat. Tidak mungkin ada riset atau pendidikan Oleh karena itu, mereka mengusulkan supaya peran negara diperkuat, sehingga negara menjadi organ yang berfungsi untuk memenuhi segala kebutuhan dari warga negaranya.

Di Eropa, negara mengatur segala hal mengenai sustainibilitas ekonomi warganya. Setiap warga negara diusahakan mendapatkan asuransi kesehatan dan jaminan sosial. Di Jerman, jaminan sosial itu berupa arbeitlosgeld, yaitu monthly allowance bagi para penganggur. Dengan dipenuhi segala kebutuhan dasarnya, maka penganggur tidak akan menjadi kriminal. Birokrasi dibuat efisien dan profesional , sehingga berperan untuk mengayomi warganya.

Berbeda sekali dengan Indonesia. Sampai detik ini, peran keluarga masih sangat dominan sebagai unit ekonomi, dan peran negara lemah sekali dalam menjamin penghidupan warganya. Tidak ada asuransi kesehatan yang baik bagi semua orang, dan tidak ada jaminan sosial yang benar. Birokrasi belum efisien. Begitu dominannya peran keluarga, bahkan sampai keluargapun bisa menentukan profesi dan jodoh dari setiap anggotanya.  Berbeda sekali dengan di Eropa, dimana profesi dan jodoh itu adalah urusan masing-masing individu.

Selama peran negara lemah dan peran keluarga kuat, maka dapat dibayangkan dunia riset dan pendidikan Indonesia akan suram. Jelas keluarga manapun tidak ingin anaknya menjadi guru/dosen/ilmuwan, karena imbalannya sangat tidak memadai. Jelas mereka ingin setiap anaknya masuk kedalam profesi-profesi yang secara materi lebih menjanjikan. Pilihan profesi bagi setiap lulusan sarjana sangat terbatas, karena yang menjadi faktor utama adalah 'carrot and stick' berupa materi. Liberalisme seperti ini sangat sukar bagi pengembangan riset dan pendidikan di Indonesia. Jalan keluarnya entah bagaimana, karena menaikkan gaji guru/dosen/ilmuwan ditengah fluktuasi harga minyak dunia sekarang ini jelas tidak realistis.

Alhasil memang siapapun yang eksis di dunia riset atau pendidkan, maka menyambi adalah keharusan. Berkolaborasi dengan keluarga, untuk mengembangkan entrepreneurship adalah salah satu opsi yang baik untuk memperkuat perekonomian keluarganya sendiri. Ditengah gagalnya peran negara dalam menjamin penghidupan warganya, maka entrepreneurship adalah satu-satunya pilihan bagi kita untuk eksis secara sosio-ekonomi. Demikian dulu curhat aku.

                            

February 03, 2008

Talkshow Netsains.Com: Dosen dan Ilmuwan Cuap-cuap di Tengah Mall

Dosen dan ilmuwan beraksi di tengah pusat pertokoan? Tak tanggung-tanggung, mereka bertestimoni mengenai indahnya menulis sains popular di dunia maya. Itulah yang terjadi di ajang Talkshow "Internet sebagai Media Popularisasi Sains" yang digelar Netsains.Com pada sabtu, 2 Februari 2008, di tengah SENIT Expo. Bertempat di satge lower ground Senayan Trade Center (STC), acara dibuka oleh Idwan Suhardi, Deputi Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset dan Teknologi.

Oplah Tertinggi

"Internet adalah media dengan oplah tertinggi di dunia. Di Indonesia saja diklik oleh 18 juta orang setiap hari. Jadi mengalahkan Kompas dan media cetak lainnya," ungkap Romi Satria Wahono, pendiri Ilmukomputer.Com yang juga kontibutor Netsains.Com.

Lelaki yang juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengenyam pendidikan 10 tahun di Negeri Sakura ini bertutur tentag suka duka berbagi ilmu di Internet sejak 2003 silam. Romi mengaku menulis blog sudah menjadi kebutuhan tersendiri yang kadang bisa mengalahkan pekerjaan sekalipun. "Saya bisa menolak panggilan hanya karena memang sedang ingin menulis saja di rumah." Ujarnya.

Merry Magdalena, dalam kapasitasnya sebagai founder Netsains, maju sebagai moderator talkshow. Sebelum pembicara yang lain dipanggil maju. Merry memberikan presentasi singkat mengenai komunitas Netsains. Presentasi tersebut diharapkan bisa memberikan penjelasan kepada audiens mengenai Netsains. Presentasi disampaikan dengan jelas, lancar, dan informatif.

Tak Takut Dibajak

Tak kalah menarik aksi Budi Rahardjo. Dosen Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku menulis di Internet jauh lebih banyak manfaatnya kendati tidak ada honorarium sama sekali. Walau karya tulis ilmiahnya sempat dibajak menjadi skripsi orang lain, ia tidak pernah kapok untuk terus berbagi ilmu di Internet. "Orang akan tahu karya siapa itu sesungguhnya. Jadi tak perlu ada kekawatiran tulisan kita dicuri orang lain," ujar lelaki berkumis yang hobi nongkrong di kafe ini.

Terkenal dengan blognya http://rahard.wordpress.com, Budi yang akrab disapa "BR" ini berkisah bahwa memang sebaiknya sains dan teknologi dipopulerkan dengan cara yang menyenangkan dan menarik sejak usia dini. Internet sebagai salah satu media yang paling efektif bisa dijadikan sarana untuk itu selain buku atau acara televisi. Mengaku mendapat inspirasi dari gaya presentasinya Bill Gates dan Steven Jobs, beliau membawakan presentasi sebagai layaknya seorang entertainer ulung. Materi yang beliau bawakan adalah mengenai 'internet dan anak-anak'. Di situ Pak Budi menekankan pentingnya mempopularisasikan sains pada anak-anak, karena mereka adalah generasi penerus. Dalam presentasinya, sempat dijabarkan betapa suramnya dunia tanpa keberadaan engineer, dan dimana engineering menjadi pemberi pencerahan pada kemanusiaan.

Fiksi Ilmiah

Ilmuwan yang berkutat di laboratorium pun bukan berarti tak bisa juga berlaga di Internet. Ini dbuktikan dengan Arli Aditya Parikesit, ilmuwan dan dosen bioinformatikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) yang rajin menulis di Internet. Arli yang tertarik dengan bioteknologi dan filsafat ini banyak mengangkat tema sains yang dikaitkan dengan fiksi ilmiah. "Karya fiksi ilmiah seperti ciptaan Jules Verne yang dulu hanya imajinasi, kini pelan-pelan menjadi kenyataan berkat kemajuan sains dan teknologi," papar Arli. Walau menulis di Internet memangsangat menyengangkan, baik Arli, Budi maupun Romi tetap setia menulis di jurnal ilmiah.

Sementara Muhammad Fahmi Aulia mewakili blogger berbagi pengalaman ikwal indahnya menulis blog. "Diawali dengan narsis, catatan harian, kelamaan saya juga menulis artikel yang agak teknis. Akhirnya saya juga tertarik mengirimkannya ke Netsains," ungkap Fahmi yang alumni Teknik Fisika ITB ini.***

Dilink dari http://www.netsains.com

December 16, 2007

Kunjungan ke Boscha

Pada tanggal 15 Desember 2007, komunitas netsains mengadakan gathering lagi di Observatorium Boscha. Acara ini sebenarnya berbarengan dengan gawenya Ristek, dalam melaunching teleskop matahari di Boscha. Saya sendiri sangat happy, karena bisa melihat dengan mata kepala sendiri Boscha itu seperti apa. Selama ini cuma tahu Boscha seperti apa dari film Sherina. Ada beberapa rekan, yang sebelumnya hanya kukenal di dunia maya, akhirnya bisa copy darat juga. Mereka diantaranya adalah pengurus iBiotech, yaitu: Audrey, Doti, dan Kalman. Menristek sendiri mengusulkan supaya Observatorium Boscha dijadikan maskot netsains. Kamipun berbincang-bincang mengenai banyak hal, Pak KK dengan gaya humornya yang selalu segar, dan Merry dengan celetukan-celetukannya :=). ITB justru diwacanakan untuk dijadikan server netsains. Aku sih ok-ok saja. Ada banyak pengalaman menarik disana. Lengkapnya, klik saja di http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_345 .  Lucu...kalo mengenai maskot netsains, nanti aku usulkan ke forum supaya Kamar Jenazah RSCM dijadikan maskot tambahan *wakakakak*.

November 13, 2007

Pengembangan Komunitas Netsains

OK...pengembaraan saya selama bertahun-tahun untuk menggoogling dunia maya, dalam rangka mencari rekan-rekin yang seide dengan saya akhirnya menemukan hasil. Akhirnya saya bertemu dengan komunitas Netsains (http://www.netsains.com)  yang dikomandani oleh Merry Magdalena. Klik saja langsung ke hyperlink diatas, untuk mengetahui netsains lebih lanjut. Aku banyak sekali bertukar pikiran dengan para  netsainers yang 'super' itu, seperti dengan Merry dan Hoho. Yang aku ndak sangka-sangka, akhirnya aku bisa berkorespondensi secara langsung dengan Pak Kusmayanto Kadiman, Menristek kita periode 2004 - 2009 ini. Asyik juga bergabung dengan komunitas ini....Banyak dapat teman baru. Jika rekan-rekin ingin join juga...kunjungi saja web site netsains, sekalian kontribusi artikel. Perkembangan terakhir, kami sedang berusaha keras untuk melegalkan netsains menjadi yayasan. Semoga awal tahun 2008 sudah bisa kita deklarasi secara formal......

October 16, 2007

Stem Cell di Indonesia?

        “ Ikuti sabda Tuhan atau pemikiran manusia”, demikian tandas seorang pendeta sambil mengangkat Alkitab dalam suatu diskusi ilmiah. Diskusi ilmiah ini diadakan di Inggris pada medio tahun 1850an untuk membahas teori Darwin. Sampai detik ini, karena lobi kaum neo-konservatif, teori Darwin dilarang untuk diajarkan di sebagian sekolah dan universitas di Amerika Serikat. Sebelum  itu, pada tahun 1633, Galileo Galilei harus menghadap pengadilan inkuisisi yang diadakan oleh pihak Gereja untuk mempertanggung jawabkan dukungannya terhadap heliosentrismenya Kopernikus. Galilei, senanda dengan Kopernikus, berpendapat bahwa matahari adalah pusat alam semesta. Sementara itu pihak Gereja, dengan doktrin geosentrisnya, berpendapat bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Akhirnya Galileo diputuskan bersalah, dan dikenakan tahanan rumah. Sementara itu, di awal abad ke 20, di Uni Soviet, ahli biologi dan genetika TD Lysenko, berhasil meyakinkan pemerintahan Stalin, bahwa teori genetika Mendel itu adalah anti komunis dan anti marxis dan Lysenko menawarkan penggantinya yaitu teorinya sendiri yang pro komunis dan memungkinkan untuk mendapatkan langkah maju di bidang pertanian. Di kemudian hari akan timbul pendapat umum diantara para ilmuwan yang menyatakan bahwa pendapat Lysenko adalah tidak benar. Namun Stalin mendukung Lysenko dan pengikutnya, sehingga ilmuwan-ilmuwan lain yang tidak sepaham dengannya akan disingkirkan. Ahli genetika terkemuka, N.I Vavilov, yang berani mengkritik teori Lysenko, meninggal di kamp kerja paksa di Siberia sebagai “martir” bagi ilmu pengetahuan yang otonom.
        Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan membawa umat manusia pada titik ekstrim. Jepang mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan manusia sebagai percobaannya. Sementara itu Uni Soviet mengembangkan senjata biologisnya dengan mengakali perjanjian internasional mengenai bioterorisme dan senjata biologis. Di tahun 1945, proyek Manhattan pimpinan Robert Oppenheimer, pakar fisika Nuklir, telah berhasil dengan eksperimen bom atomnya. Beberapa bulan setelah keberhasilan tersebut, bom atom diledakkan di Hirosima dan Nagasaki di Jepang, dengan korban tewas di kedua kota tersebut sekitar 300.000 penduduk.
Kami tidak mau menyulut polemik lebih jauh mengenai apakah sel tunas ini sebaiknya diperbolehkan atau tidak untuk dikembangkan. Masing masing pendapat memiliki dasar yang kuat untuk pembenarannya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus ini dengan pertimbangan seperti yang akan kami tulis dibawah.
        Masyarakat modern telah percaya bahwa hanya suatu sistem yang demokratis saja yang mampu menjamin aspirasi dari warga negaranya dapat tersalurkan. Demokrasi memiliki prasarat antara lain suatu masyarakat yang terbuka, penegakan hukum, transparansi, pertanggung jawaban ke publik, dan tentu saja partisipasi publik. Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan di suatu negara, setiap proses pengguliran regulasi, pembentukan institusi, dan pekerjaan institusinya, tetap harus melalui proses demokratis. Ilmu pengetahuan bukanlah bidang yang tertutup seperti bidang militer dan intelejen, sehingga proses demokrasi yang normal justru akan menguntungkan komunitas ilmu pengetahuan.
Dalam konteks sel tunas ini, setiap kelompok, baik yang pro atau yang kontra, harus tetap taat terhadap hukum nasional yang telah terinstitusikan dalam proses demokrasi. Taat dengan hukum nasional berarti tidak menggunakan cara-cara teror, intimidasi, dan anarki dalam rangka memperjuangkan pendapatnya. Pendapat dari setiap kelompok bisa diuji dalam debat, seminar, sarasehan, dan wacana dengan publik sebagai jurinya. Setiap upaya kriminal untuk menggolkan pendapat satu kelompok harus ditolak atas nama hukum. Apa yang terjadi di Amerika Serikat patut disayangkan, sebab kelompok neo-konservatif berencana memberangus kelompok liberal yang mendukung setiap upaya pengembangan sel tunas ke penjara. Suatu hal yang aneh dalam konteks Amerika, sebab selama ini Amerika selalu mengklaim dirinya sebagai pionir demokratisasi dunia. Sementara apa yang terjadi di Korea Selatan patut dipuji, sebab kelompok konservatif berhasil menggolkan pemikirannya, dengan dilarangnya klon reproduksi, sementara kelompok liberal juga berhasil diperbolehkan dalam upayanya melakukan riset klon terapi. Jadi win-win solution berhasil dicapai di Korea Selatan.
Berkaca dari kasus Amerika Serikat dan Korea Selatan, bagaimanapun dalam konteks Indonesia ini kita harus bergegas menanggapi setiap perkembangan yang terjadi dalam konteks sel tunas. Beruntung kita sudah memiliki komisi bioetika yang membahas mengenai sel tunas. Diharapkan supaya kedepannya legislasi sel tunas bisa dirilis.
        Dalam konteks pengembangan sel tunas embrio manusia sendiri, jelas sekali masih memerlukan waktu bertahun-tahun sampai teknologi ini dapat diaplikasikan pada manusia. Bahkan sel tunas sendiri belum menjalani uji klinis pada manusia, yang memerlukan waktu panjang juga dalam mengevaluasi resiko dan keberhasilannya. Pengembangan sel tunas sendiri memerlukan SDM yang handal dan infrastruktur yang memadai.  Indonesia mungkin memiliki SDMnya, namun untuk infrastruktur itu adalah tanda tanya. Tim Riset sel tunas di Korea Selatan dalam setahun mendapat dana US$ 2 juta dari pemerintahnya. Sementara di Indonesia, satu tim penelitian mendapatkan dalam setahun Rp 100 juta hibah pun belum tentu. Penghargaan terhadap ilmu-ilmu dasar di Indonesia masih sangat rendah. Pemerintah masih memiliki prioritas lain untuk diperbaiki seperti sanitasi, transportasi massa, ekonomi makro, dll. Membayangkan sel tunas akan menjadi subyek penelitian di Indonesia seperti day dreaming saja.
        Namun bukannya tidak mungkin day dreaming itu menjadi kenyataan, bila para ilmuwan dapat meyakinkan publik dan pemerintah, bahwa penelitian sel tunas ada manfaatnya. Bila penelitian negara-negara maju pada akhirnya membuktikan bahwa ada manfaat terapetik dari penelitian sel tunas, Indonesia tidak mungkin menolak sama sekali penelitian sel tunas. Namun tetap harus ada mekanisme kontrol dan legislasi yang baik, dalam perspektif bioetika. Kita tentu tidak ingin sel tunas dimanfaatkan untuk kepentingan bioterorisme, seperti kasus Jepang dan Uni Soviet di masa lalu, dimana mereka menggunakan mikroorganisme untuk kepentingan terorisme. Setiap upaya penelitian harus diarahkan semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan saja. Namun jika penelitian sel tunas ini tidak menjanjikan apa-apa, tentu saja diskusi mengenai sel tunas dapat segera ditutup.

October 11, 2007

Sains di persimpangan jalan

Sebenarnya ilmu pengetahuan sedang berada dalam persimpangan jalan. Secara kuantitatif, ia menjanjikan segudang hal. Mulai dari biologi molekuler dengan rekayasa genetikanya, kedokteran dengan terapi gennya, Fisika material dengan nanotechnologynya, Teknologi informasi dengan artificial intelligencenya. Paradigma positivisme sosiologis ala August Comte pada abad-19 menyatakan, bahwa dengan kemajuan sains, maka akan dicapai pula kebahagiaan umat manusia. Bahkan Sigmund Freud, bapak ilmu psikologi, lebih jauh lagi menyatakan bahwa bila perkembangan sains sudah sangat maju, maka agama sudah tidak diperlukan lagi. Namun, pertanyaannya, apakah dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, manusia juga semakin bijak dalam mejalankan hidupnya?

Pertanyaan terakhir ini memang sangat sukar dijawab, dan artikel ini tidak berpretensi untuk menjawabnya juga. Kami hanya mengajak untuk merenung dan berkontemplasi, bukan untuk menjawab pertanyaan. Namun perhatikan juga perkembangan sejarah umat manusia. Dalam ilmu kimia, perkembangan kajian sintesa kimia organik/organometalik mencapai puncaknya sewaktu pihak militer Jerman jama perang dunia I berhasil mensintesis senyawa Lewisite, yang digunakan sebagai senjata kimia untuk melawan pihak Inggris. Setelah itu bermunculan berbagai varian senjata kimia, seperti Sarin dan Mustard. Rezim Baath Saddam Hussein menggunakan gas mustard untuk membantai suku kurdi di utara Irak pada tahun 80-an. Saya pernah melihat video montasenya, dan sangat mengerikan keadaan mayat suku kurdi korban senjata kimia yang saya lihat. Mereka seperti hangus terbakar dan kulitnya melepuh semua, dalam beberapa kasus sampai dagingnya kelihatan. Sementara Ilmu Biologi mencapai puncaknya dengan pengembangan senjata biologis oleh Jepang pada tahun 30 an sampai 1945. Jepang menggunakan bom yang disisipkan patogen antrax (bomblet), untuk membantai penduduk sipil di Mancuria, China utara. Sementara tahanan perang China dan sekutu, disiksa dengan disuntikkan dengan patogen berbahaya langsung secara in vivo. Untuk ilmu fisika, tidak usah ditanya lagi, mencapai puncaknya dengan pengembangan senjata nuklir, yang meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki

.

Mungkin belum cukup dengan semua itu, sebenarnya di benak banyak orang, pasti mengira bahwa profesi ilmuwan, dokter, atau insinyur adalah profesi yang terhormat dan pasti orang-orang yang berintegritas saja yang bisa demikian. Saudara-saudara, saya tegaskan disini, bahwa TIDAK ADA KORELASI SAMA SEKALI antara PROFESI seseorang dengan INTEGRITAS MORALnya. Saya langsung berikan contoh, Shiro Ishi, Ketua Unit 731 yang mengembangkan senjata biologis Jepang adalah seorang dokter. Sementara, Josef Mengele, yang menjadikan para tawanan Yahudi sebagai kelinci percobaannya, juga adalah seorang dokter. Sementara, yang mengembangkan senjata nuklir, Robert Oppenheimer, adalah seorang Fisikawan. Juga orang-orang yang menemukan gas Lewisite, Sarin, Mustard, dan lainnya juga adalah Kimiawan. Orang-orang diatas dengan sadar penuh, rela menggunakan ilmunya untuk kepentingan politik. Bisa jadi karena mereka tidak punya pilihan lain, karena negara mereka memaksa mereka untuk menjadi demikian. Hanya saja pilihan yang mereka ambil menyebabkan banyak nyawa melayang. Tidak ada jaminan bahwa bila seorang dokter mengucapkan sumpah Hipokrates atau sumpah profesi lain, yang mewajibkan dokter untuk menolong nyawa pasiennya, maka dokter itu tidak akan terlibat pada program pengembangan senjata pemusnah masal. Sumpah itu hanya di mulut saja, sementara hati nurani bisa bicara lain. Seorang Shiro Ishi dan Joseph Mengele di satu sisi, sementara seorang Albert Schweitzer di sisi lain, mereka semua sama-sama mengucapkan sumpah hipokrates dan sumpah profesinya. Namun pihak yang satu menjadi pengembang senjata pemusnah masal/algojo tahanan politik, sementara yang satu menjadi aktivis kemanusiaan yang mendapat nobel perdamaian. Politik itu buta (Bukan hanya cinta saja yang buta). Dia tidak peduli yang telibat itu dokter atau bukan, insinyur atau bukan, ilmuwan atau bukan. Yang penting begitu seorang teknokrat memasuki dunia ini, maka akan ada konsekuensi yang sangat serius dari sisi kemanusiaan dan moralitas. Bisa jadi contoh diatas memberikan contoh secara langsung, bahwa bukan profesinya yang membuat seorang Albert Schweitzer itu mulia, namun karena idealismenya yang tinggi untuk menolong sesamanya itu yang membuat seorang Pak Albert itu mulia. Kemuliaan datang tanpa memandang apa profesi orang. Ia datang dimana keadilan ditegakkan, Kasus demikian juga terjadi pada Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Martin Luther King Jr yang notabene bukan dokter, ilmuwan, atau insinyur. Sukar untuk menilai orang dari profesinya. Di satu sisi, banyak orang yang ingin jadi dokter, ilmuwan, atau insinyur, namun di titik itu tidak ada yang bercita-cita untuk menjadi MANAJERnya dokter, ilmuwan, atau insyinyur. Bicara manajemen, pasti berbicara mengenai good corporate governance (pasti orang ekonomi sudah tahu semua). Sudah jamak sekali terdengar dokter yang melakukan malpraktek, ilmuwan yang mikirin dirinya sendiri dan mengisolasi diri, atau insinyur yang bikin gedung/rumah/proyek lalu ambrol berantakan. Mungkin mereka-mereka ini mesti belajar manajemen sama Pak Renald Khasali barangkali, supaya menjadi lebih profesional dalam menjalani profesinya. Disini menarik, saya mengajak bila ada orang ekonomi yang membaca artikel ini, untuk langsung memberi masukan pada artikel ngolor ngidul ini, biar semakin jelas arahnya.

Agak sukar juga melihat dilema ini. Sains tidak ubahnya seperti fenomena “tanaman makan pagar’ atau pisau bermata dua. Saya tak ada habis-habisnya merenung, semakin tinggi perkembangan sains, maka mesin perang pemusnah yang diciptakan manusia akan semakin canggih secara kualitas dan kuantitas. Ini konsekuensi logis dari paradigma positivisme. Sering beberapa pakar menggulirkan, bahwa sekarang positivisme sudah mati. Sekarang katanya kita bicara post-positivisme. Faktanya di lapangan, masih banyak yang percaya bahwa semakin canggih sains, manusia semakin bahagia. Benar-benar sulit.

Walaupun saya seorang kimiawan, saya dengan jujur menyatakan bahwa saya tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan akan membuat saya bahagia begitu saja langsung seperti datang dari langit. Sains itu hanya suatu instrumen belaka.

Ada hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar sains dan teknologi an sich, seperti cinta kasih, kesetia kawanan, keadilan sosial, dan kejujuran. Semua itu menjadi suatu jaring-jaring sosial yang menyangga peradaban kita. Masalah percaya tidak percaya. Tapi sebenarnya pertanyaan diatas belum terjawab….

Anthropobiology

Baru-baru ini, Lembaga Eijkmann merilis penemuan yang menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, bukan dari Yunan seperti yang dipercaya oleh banyak orang.  Saya pikir semua ilmuwan yang jujur percaya, bahwa antara intelejensia dengan ras sebenarnya tidak ada hubungan yang pasti. Bahwa sesungguhnya intelejensia ditentukan oleh faktor lingkungan.  Namun benarkah bahwa lingkungan yang paling menentukan siapa diri kita? Bukankah istilah “lingkungan mempengaruhi segalanya” adalah istilah yang dipopulerkan Karl Marx, untuk mendorong revolusi kaum buruhnya? Bahwa menurut dia, pada akhirnya kesadaran manusia secara total ditentukan oleh relasi ekonomi politik antara kaum buruh dan kapitalis, tanpa memberi ruang terhadap kehendak bebas? Dengan demikian dimana kehendak bebas manusia? Apakah kehendak bebas hanya spekulasi ngelantur para eksistensialis seperti Sartre, Bergson, dan Iqbal, atau secara faktual ia “ada”?

Memang sekarang ini para ilmuwan cenderung ogah mengasosiasikan ras/gen terhadap manifestasi budaya manusia, itu dengan alasan kuat.  Trauma perang dunia II, yang dipicu oleh Nazi Jermannya Hitler, yang bertujuan menghabisi kaum Yahudi, Gipsi, Homoseksual, Slavia, dan cacat di seluruh eropa membuat banyak orang cenderung menganggap mengasosiasikan gen/ras dengan budaya sebagai sikap “rasialisme”. Namun perhatikan ini, mengapa sih orang kulit hitam Amerika adalah kelompok yang paling produktif dalam hal kesenian, dibanding yang kulit putih?  Rasanya sudah jamak kita kenal musik R&B, Hip-hop, dan tentu saja Jazz yang notabene ciptaan kaum Black American. Apakah itu murni faktor lingkungan? Atau pada kelompok Black Amerikan memiliki gen tertentu, yang memungkinkan mereka sukses dalam berkesenian, dimana interaksi optimal antara gen dan lingkungan memungkinkan mereka mengaktualisasikan dirinya sebagai seniman? Dan kemudian, mengapa justru kelompok bangsa yang paling berperan dalam perkembangan kebudayaan barat adalah orang Yahudi, dan bukan yang Kristen? Bukankah selama ini Bangsa Yahudi adalah kelompok yang paling konsisten dalam menjaga kemurnian rasnya, dengan melakukan pernikahan di kalangan mereka sendiri?

Agak lucu kecenderungan sebagian orang yang  menganggap teorinya Darwin sebagai ideologi, yang kemudian kita adu dengan Islam.  Pertama-tama, teori Darwin sebenarnya bukan ideologi, ia hanyalah salah satu teori dalam sains. Juga harus diletakkan bahwa kebenaran agama dan kebenaran ilmiah tidak sepantasnya dipertentangkan.  Kebenaran agama adalah yang tertinggi, karena ia adalah wahyu, namun kebenaran ilmiah juga harus kita pengang, karena itu cara kita untuk mengaktualisasi diri kita dalam era globalisasi yang penuh tantangan ini. Namun kaum Nazi Jerman dan Uni Soviet membajaknya, sehingga ia menjadi ideologi. Teorinya Darwin sebenarnya sama saja dengan teori-teori lain dalam sains, hanya saja karena tidak ada cara untuk membuktikan secara pasti kalau evolusi itu terjadi (kecuali kalau kita punya mesin waktu), maka ia belum bisa disebut sebagai “hukum”. Sama saja dengan teori atom, karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat tanpa bantuan instrumen super canggih, maka ia tinggal teori saja, dan tidak bisa dibilang hukum (Seperti hukum Newton).

Menarik juga antropobiologi itu.  Sebenarnya bila orang mempelajari Biologi secara mendalam, akan menemukan bahwa sesungguhnya secara biologis manusia itu sama.  Penampakan rasial yang berbeda, seperti warna kulit, bentuk mata, warna rambut, dll, itu hanyalah merupakan penampakan yang bersifat permukaan.  Bila semua itu kita “singkirkan”, kita akan melihat bahwa manusia memiliki fungsi organ yang sama, dan gen yang sebenarnya sama juga.  Namun interaksi antara gen dan lingkungan itulah yang menentukan menjadi apa si manusia itu.  Interaksi antara gen dengan lingkungan yang menciptakan diversitas umat manusia, semenatara gennya sendiri itu sama saja. Dalam perspektif ini, sebenarnya sikap rasialisme tidak dapat diperbolehkan, karena sikap itu menghianati konsepsi bahwa kodrat manusia secara biologis adalah sama.


Amino acids are the building blocks of proteins

 Amino acids are the building blocks of proteins. An α-amino acid consists of a central carbon atom, called the α carbon, linked to an amino group, a carboxylic acid group, a hydrogen atom, and a distinctive R group. The R group is often referred to as the side chain. With four different groups connected to the tetrahedral α-carbon atom, α-amino acids are chiral; the two mirror-image forms are called the L isomer and the D isomer.

 

Notation for distinguishing stereoisomers—

The four different substituents of an asymmetric carbon atom are assigned a priority according to atomic number. The lowest-priority substituent, often hydrogen, is pointed away from the viewer. The configuration about the carbon is called S, from the Latin sinis-ter for “left,” if the progression from the highest to the lowest priority is counterclockwise. The configuration is called R, from the Latin rectus for “right,” if the progression is clockwise.

Only amino acids are constituents of proteins. For almost all amino acids, the L isomer has S (rather than R) absolute configuration. Although considerable effort has gone into understanding why amino  acids in proteins have this absolute configuration, no satisfactory explanation has been arrived at. It seems plausible that the selection of  L over D was arbitrary but, once made, was fixed early in evolutionary history.


Reference: Biochemistry Berg et al